Pembohongan Media Mainstream tentang Kasus Penganiayaan Warga Jonggol

Share Button

PERNYATAAN PERS

Kejadian Perampokan, Penganiyaan, dan Pengrusakan Terhadap Keluaga Bapak Sim Tek Sun alias Sulaiman di Jl. Lapangan Bola Jeprah Rt 001 Rw 001 Kelurahan/Desa Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Pada tanggal 23 dan 24 Desember 2017, tTelah terjadi perampokkan disertai penganiayaan di kediaman Bpk. Sim Tek Sun alias Sulaiman yang adalah warga keturunan Tionghoa yang beralamat di Jl. Lapangan Bola Jeprah Rt. 001 Rw. 001 Desa/Kelurahan Jonggol Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. Perampokan, penganiayaan dan pengrusakkan tersebut dilakukan oleh lebih dari 20 orang pria dewasa. Akibat kejadian tersebut keluarga Bpk Tetsun alias Sulaiman mengalami trauma dan juga mengalami luka fisik akibat pemukulan yang dilakukan oleh para penjahat tersebut. Di saat kejadian terdapat anak-anak, wanita hamil, pemuda remaja dan orang tua yang sedang sakit-sakitan.

Para penjahat tersebut menjarah semua harta termasuk surat-surat penting seperti ijazah milik semua anak Bpk Tetsun alias Sulaiman. Penjahat tersebut hanya menyisakan pakaian yang melekat dibadan.

Pada saat kejadian tindak kejahatan itu berlangsung tidak ada satupun aparat keamanan setempat dan juga perangkat desa yang datang untuk mengamankan lokasi tersebut. Padahal lokasi kejadian tidak jauh dari kantor desa dan juga kantor kepolisian. Peristiwa kejahatan ini terjadi disiang hari dan di tonton oleh semua masyarakat setempat.

Koordinator penjahat tersebut yang bernama OO alias Oyan sempat berteriak di depan mereka “Silahkan kamu lapor ke Polsek dan kamu pasti tidak akan dilayani oleh Polsek” kata-kata itu ditujukan kepada semua anggota keluarga Bpk. Tetsun alias Sulaiman.

Memang diisaat kejadian tanggal 23 Desember 2017, Anak Bapak Tetsun bernama Yanti sempat berlari memohon bantuan Polsek setempat dan melaporkan kejadian, tapi sayang semuanya tidak ditanggapi dengan serius oleh aparat kepolisian setempat.

Kejadian ini menjelang hari besar umat Kristen dan dilakukan sebanyak dua kali dalam hitungan jam. Kejadian pertama adalah perampokan dan penganiayaan yang di lakukan tanggal 23 Desember 2017. Kejadian kedua adalah pengrusakkan dan penganiayaan yang dilakukan tanggal 24 Desember 2017.

Adapun rincian waktu dan uraian peristiwa sebagai berikut :

  1. Pada tanggal 23 Desember 2017 pukul 16:15 wib datang lebih kurang 20 orang pria dewasa yang dikomandoi oleh orang yang bernama OO atau Oyan, mereka memaksa masuk kerumah menjarah dan membawa pergi semua barang-barang milik Bpk Tetsen Alias Sulaiman dan mereka juga memukuli semua anak Bpk Sim Tek Sun alias Sulaiman, baik anak yang lelaki dan juga yang perempuan, termasuk anak yang perempuan didorong dan diseret oleh para penjahat tersebut.
  2. Pada tanggal 23 Desember 2017 pukul dengan didampingi oleh LBH. Samudra Keadilan yang adalah kuasa hukum keluarga bpk Sim Tek Sun alias Sulaiman melaporkan peristiwa tersebut kepada Polsek Jonggol.
  3. Pada tanggal 24 Desember 2017 pukul 09:19 kembali datang lebih kurang 20 orang pria dewasa yang dikomandoi oleh orang yang bernama OO atau Oyan membongkar atap rumah kediamanan Bpk Sim Tek Sun alias Sulaiman dan juga menganiaya pemilik rumah bpk Sim Tek Sun alias Sulaiman sampai mengalami luka sobek di kepala dan luka jahitan di kaki.
  4. Pada tanggal 24 Desember 2017 dengan didampingi oleh LBH. Samudra keadilan mendampingi bpk Sim Tek Sun alias Sulaiman melaporkan peristiwa pengrusakkan dan penganiayaan tersebut kepada Polsek Jonggol (copy laporan polisi terlampir).

Sampai dengan kronologis ini dibuat belum ada pergerakan dari Polsek Jonggol unkuk menangkap para pelaku kejahatan ini, padahal para penjahat tersebut masih berkeliaran di seputar kediaman Bpk Sim Tek Sun alias Sulaiman.

JAKARTA, 28 Desember 2017

  • Opa Jappy | Hp. +62818121642
  • Puspa Sari, SH | Hp. +6287788588144
  • Netty Sitompul, SH | Hp. +628129556942

Sampai dengan kronologis ini dibuat belum ada pergerakan dari Polsek Jonggol unkuk menangkap para pelaku kejahatan ini, padahal para penjahat tersebut masih berkeliaran di seputar kediaman Bpk Sim Tek Sun alias Sulaiman; oleh sebab iu, Tim Advokasi melaporkan ke Bareskrim Mabes Polri pada 28 Desember 2017. Kepada Tim Advokasi, para petugas dari Bareskrim arahkan agar ke Polres Kabupaten Bagor. Kemudian, Tim Advokasi menuju ke Polres Kabupaten Bogor; namun para petugas di sana, mengarahkan agar Tim Advokasi langsung ke Polsek Jonggol.

Bersamaan dengan itu, video tentang penganiayaan terhadap Sulaiman beredar di area publik melelalui Media Sosial. Sayangnya, pemberitaan Media, khususnya Detik Com, justru memberitakan hal yang berbeda dengan Pernyataan Pers yang dipublikasi oleh Tim Advokasi. Menerut Detik Com:

Beredar Video Warga Bogor Dirampok, Polisi: Itu KasusTanahhttps://news.detik.com/berita/3790858/beredar-video-warga-bogor-dirampok-polisi-itu-kasus-tanah

Bogor – Sebuah video pengakuan seorang warga asal Bogor beredar di media sosial. Dalam video berdurasi 53 detik tersebut, seorang pria dan perempuan yang tidak diketahui identitasnya mengaku telah dirampok dan dianiaya

Menurut Kapolsek Jonggol, Kompol Agus Supriyanto, 29 Desember 2017, “Memang betul ada laporan korban atas nama Sulaeman, tapi laporannya kasus penganiayaan, bukan perampokan. Laporannya tanggal 23 Desember 2017. Penganiayaan tersebut terjadi karena latar belakang kasus kepemilikan tanah. Sulaeman disebut tinggal di rumah yang berdiri di di lahan milik orang lain. Jadi ini soal sengketa tanah, yang bersangkutan (Sulaeman) itu diduga tinggal di atas lahan orang lain, kemudian diminta mengosongkan rumahnya,mungkin terjadilah itu penganiayaan.

Saat kejadian, Sulaeman didatangi oleh sekelompok pria dan memintanya untuk mengosongkan dan meninggalkan rumah tersebut. Agus tidak menyebut kapan penganiayaan tersebut terjadi dan siapa pria yang dilaporkan Sulaeman. Yang datang memang lebih dari satu, tapi yang melakukan (penganiayaan) cuma satu orang.

Sekarang kasusnya masih kita selidiki, kita masih periksa saksi-saksi. Belum bisa dijelaskan lebih lanjut siapa pelakunya kan kita masih periksa saksi-saksi, tapi korban mengenal pelaku,”

Pemberitaan dari Detik tersebut disanggah oleh Tim Advokasi dan dikirim ke Redaksi Detik Com, namun tak ada klarifikasi dari mereka.

Menyanggah Pemberitaan Detik Com tertanggal 31 Desember 2017 16:26 WIB berjdul Warga di Bogor Dianiaya, Polisi: Akibat Eksekusi Tanah Sepihak.https://m.detik com/news/berita/d-3793087/warga-di-bogor-dianiaya-polisi-akibat-eksekusi-tanah-sepihak

Tgl 23 Desember 2017 BAP atas Yanes sudah dilakukan di Polsek Jonggol penyidiknya BRIPKA Sulaiman. Penganiyaan dilakukan lebih dari satu orang [Detik Com: Penganiya oleh lebih dari satu orang, diterangai sebagai preman setempat]

Tgl 24 Desember 2017 BAP atas Sulaiman sudah dilakukan di Polsek Jonggol [Detik Com: AKBP Dicky mengatakan personel dari Polsek Jonggol sudah mengecek TKP. Sulaiman sebagai pelapor belum diperiksa karena meminta diperiksa setelah Natal yaitu tanggal 3 Januari 2018. Oleh sebab itu, polisi lebih dahulu meminta keterangan dari terlapor.]

Bahwa barang yang sudah tidak ada di rumah, tidak benar dititip di kerabat.
Tapi barang tersebut sudah dirampok dengan menggunakan mobil. [Detik Com: Dari keterangan Sulaiman dan kerabatnya yang bernama Lili, perabot milik Sulaiman tidak ada di rumah karena ditaruh di kediaman kerabatnya itu. AKBP Dicky mengatakan keterangan Sulaiman dan Lili tidak menggambarkan bahwa ada perampokan.] Padahal, Sulaiman dan Lili tidak memberikan apa pun kepada Kapolres dan jajarannya, termasuk ke Media,

Bahwa dari pihak kuasa hukum bukanlah melaporkan tentang SARA maupun Sengketa Tanah seperti pernyataan Kapolres Kab Bogor.
[Detik Com: Kapolres Kab Bogor, “Pernyataan dari pihak pengacara mengenai adanya ‘persekusi terkait masalah rasial’ adalah sesuatu yang berlebihan karena perlakuan buruk atau kekerasan yang dilaporkan saudara Sulaiman hanya berlatar belakang sengketa tanah, bukan masalah SARA atau pandangan politik.”]

Kami kuasa hukum melaporkan tindak Pidana Perampokan, Penganiayaan dan pengrusakkan.

Kami Tim Advokasi berharap bahwa Publik atau pun Media Pemberitaan bisa pahami dari semua sisi.

Terima Kasih

Jakarta, 31 Desember 2017

  • Opa Jappy | Hp. +62818121642
  • Puspa Sari, SH | Hp. +6287788588144
  • Netty Sitompul, SH | Hp. +628129556942

Sayangnya, sekali lagi, sayangnya, sanggahan dari Tim Advokasi dan disampaikan ke Media tersebut tak ditanggapi dengan baik, padahal mereka telah melakukan hubungan telepon dengan Tim Advokasi. Mereka, media-media tersebut tetap saja memberitakan hal-hal yang tak sebenarnya atau tak sesuai dengan fakta yang terjadi. Media-media tersebut, antara lain

Tribunnews Bogor: Minggu, 31 Desember 2017 14:22. Sengketa Tanah yang Berujung Penganiayaan . Laporan Wartawan Tribunnews Bogor.com, Damanhuri.

Sebuah pesan berantai menyebar melalui media sosial Watsapp terkait warga bernama Sim Tek Sun alias Sulaiman yang mendapat perlakuan tidak mengenakan dirumahnya sendiri. Dalam pesan itu tertulis harta benda milik Sulaiman diambil paksa oleh kelompok orang tertentu pada tanggal 24 Desember 2017 lalu.

Saat dikonfirmasi TribunnewsBogor.com, Netty Sitompul dari Gerakan Damai Nusantara yang mendapampingi Sulaiman mengatakan, jika seisi rumah Sulaiman yabg berlokasi di Jalan Lapangan Bola Jeprah RT 01/01 Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor. Menurutnya, “Awal mula kasus tersebut lantaran permasalahan sengketa lahan yang saat ini ditinggali oleh kliennya itu. Jika kliennya itu sudah menempati lahan tersebut selama 40 tahun. Pakainnya saja semua dirampas paksa, sekarang ini pak sulaiman dan keluarganya cuma punya baju yang ia pakai Tak hanya itu, korban juga sempat mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh sekelompok orang saat akan merayakan Natal. Seharusnya menjelang natal tanggal 24 desember itu bisa tenang, tapi pak sulaiman malah mendapat perlakuan seperti itu.”

Liputan6.com, Bogor – Kapolres Bogor, Andi M Dicky, menjelaskan mengenai laporan terkait dugaan persekusi terhadap Sim Tek Sun alias Sulaiman di Jalan Lapangan Bola Jeprah, Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor. Menurut Kapolres,Polisi sudah menerima laporan dari pihak pelapor dua kali.

Pertama, LP/B/2617/XII/2017/Jbr/resbgr/sek jonggol, tertanggal 23 Desember 2017. Perkara yang dilaporkan Penganiayaan.

Kedua, LP/B/2622/XII/2017/jbr/res bgr/sek jonggol, pada 24 Desember 2017 tentang pengerusakan, penganiayaan dan atau pengeroyokan.

Jadi tidak benar jika polisi disebut tidak menanggapi kasus ini dengan serius. Bahkan terhadap kedua laporan tersebut, anggota Reskrim Polsek Bogor sudah mengecek tempat kejadian perkara dan vissum et revertum (VER). Akan tetapi, Sulaeman melalui pengacara yang sejak awal mendampinginya malah meminta diperiksa setelah natal, yaitu tanggal 3 Januari 2018. Pihak terlapor juga sudah diperiksa terlebih dahulu sebelum Sulaeman.

Dari hasil penyelidikan sementara, kasus tersebut dilatarbelakangi masalah sengketa tanah. Pihak terlapor melakukan eksekusi tanah atau bangunan secara sepihak pada pihak pelapor.

Namun setelah dilakukan pendekatan oleh tokoh masyarakat dan kepala dusun desa itu, Sulaeman dan saudaranya, Lily, akhirnya mau diperiksa pada 30 Desember 2017.

Ketua RW 001 Desa Jonggol, Edy Jantho menyaakan bahwa, “Aparat desa, Bhabinkamtibmas dan Babinsa juga sudah sekitar 7 kali memediasi antara pelapor dan terlapor terkait sengketa tanah, yang sebenarnya masih kerabat.”

Jakarta NNC: Beredar Viral Peristiwa Persekusi Rasial di Jonggol, Polres Bogor Sebut Sengketa Tanah Senin, 01 Januari 2018 | 22:34 WIBBeberapa waktu lalu, beredar sebuah pesan berantai menyebar melalui Whatsapp terkait warga bernama Sim Tek Sun alias Sulaiman. Dalam pesan itu disebutkan adanya perampokan yang menimpa Sulaiman pada 24 Desember 2017, lalu. Semua barang milik korban dibawa pelaku termasuk peralatan makan. Berdasarkan temuan penyidik, penganiayaan ini berawal dari sengketa tanah antara keluarga Sulaiman dan orang yang dilaporkan. Dua keluarga itu sama-sama keturunan Tionghoa.

Pada 23 Januari 2017, terlapor datang ke rumah Sulaiman bersama puluhan pria dewasa. Terlapor mengklaim lahan yang ditempati Sulaiman adalah miliknya. Karena itu, dia meminta korban dan keluarganya segera mengosongkan tempat itu. Diduga, saat itu ada penolakan dari keluarga Sulaiman, sehingga terjadi penganiayaan. Ihwal dugaan perampokan dibantah Andi. Sebab, barang-barang milik keluarga Sulaiman diungsikan ke rumah Lily, adik Sulaiman. “Jadi bukan dijarah atau dirampok,” ucapnya. Perselisihan antara Sulaiman dan terlapor terjadi cukup lama. Bahkan aparat desa dan kecamatan sudah turun tangan untuk mendamaikan mereka. “Kata ketua RT setempat, keduanya sudah tujuh kali dipertemukan. Namun korban tetap ngotot.” Andi juga menyatakan akan menuntaskan laporan penganiayaan yang terjadi di Jonggol ini. Dia mengimbau agar masyarakat tidak membelokkan kasus ini ke isu SARA. “Karena memang tidak ada hubungannya.”

Sanggahan Terhadap Pemberitaan Media-media di Atas

Berdasarkan pemberitaaan yang  bersifat sepihak oleh media-media tersebut di atas, maka kami dari Tim Advokasi menyatakan bahwa

  1. Bahwa saat kejadian peristiwa tanggal 23 Desember 2017 Perampokan, Pengahiayaan dan Pengrusakkan itu anak dari bapak Sulaiman bernama Yanti datang ke POLSEK Jonggol untuk mohon bantuan POLSEK agar datang ke TKP, tapi jawaban POLSEK tidak ada anggota karena lagi operasi lilin 2017. Nama dan alamat tempat hanya di catat di dalam buku dan tidak di lanjutkan untuk pembuatan Laporan alias dibiarkan begitu saja oleh POLSEK Jonggol. Setelah di Visum barulah di tanggal dan hari yang sama kami sebagai kuasa hukum membawa saudara Yanes untuk melapor dan selanjutnya di BAP dan juga sdri. Yanti di BAP sebagai saksi.
  2. Tanggal 24 Desember 2017 keluarga bapak Sulaiman kembali mengalami penganiayaan dan pengrusakkan atas genting rumah yang ditempatinya, Saat kejadian anak pak Sulaiman bernama Yanes dan juga adik ipar pak Sulaiman datang ke POLSEK untuk melapor tapi kembali POLSEK tidak menanggapi laporan mereka. Penganiayaan tersebut mengakibatkan luka di tubuh pak Sulaiman dan di Visum. Setelah selesai Visum, kuasa hukum membawa bapak Sulaiman untuk lapor di POLSEK Jonggol dan langsung di BAP dan juga POLSEK mem BAP ibu Lalan istri pak Sulaiman sebagai saksi.
  3. Tanggal 29 Pihak POLSEK yang diwakili oleh Kanit yang bernama Bripka Sulaeman datang membawa surat panggilan untuk di BAP tanggal 30 Desember 2017. Sebagai saksi, bpk Sulaiman di BAP sebagai saksi kejadian tanggal 23, memanggil Yanes untuk di BAP sebagai saksi kejadian tanggal 24, memanggil Yohana untuk di BAP sebagai saksi kejadian tanggal 24, memanggil Lili untuk di BAP sebagai saksi tanggal 24 Desember 2017. Kami sebagai kuasa hukum datang ditanggal 30 Desember 2017 untuk memenuhi panggilan BAP dari POLSEK sebagai saksi, saat kami datang tidak ada satupun penyidik yang ada di tempat. Menurut petugas POLSEK saat itu semua penyidik dipanggil ke Polres. Kami menunggu dan saat jam 7 malam semua klien kami, Sulaiman, Yanes, Yohana, Lili mulai di BAP sebagai saksi.
  4. Tentang barang-barang yang dibawa oleh pelaku kejahatan tersebut itu benar adanya, perampok tersebut menggunakan 2 mobil bak terbuka untuk membawa barang-barang tersebut. Saat itu klien kami tidak tahu barang tersebut akan dibawa kemana, tapi saat malam para perampok tersebut ternyata meletakkan barang-barang itu di depan rumah adik ipar pak Sulaiman. Ini dilakukan oleh penjahat-penjahat itu hanya untuk mencari kambing hitam dan untuk mengaburkan tindak kejahatan yang mereka lakukaan terhadap keluarga bapak Sulaiman sesuai pasal 351 KUHPidana.
  5. Menanggapi semua pemberitaan di media cetak maupun elektronik yang mengatakan bahwa ini adalah masalah perdata, maka kami sebagai kuasa hukum menyanggah pemberitaan tersebut, kami tegaskan bahwa kejadian tanggal 23 dan 24 Desember 2017 adalah Pidana Murni sesuai dengan pasal 351, 170 KUHPidana dan Pasal 362 KUHPidana,Jakarta, 2 Januari 2018

Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi kami

Tim Advokasi

  1. Opa Jappy | Hp. +62818121642
  2. Puspa Sari, SH | Hp. +6287788588144
  3. Netty Sitompul, SH | Hp. +628129556942

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa