Penjahat Kemanusiaan Bersembunyi Dibalik Kebesaran Agama

kontras-nilai-polisi-ciptakan-ketakutan-terhadap-teroris-9095y9A5hl

Secara Umum, agama adalah upaya manusia untuk mengenal dan menyembah Ilahi (yang dipercayai dapat memberi keselamatan serta kesejahteraan hidup dan kehidupan kepada manusia]) upaya tersebut dilakukan dengan berbagai ritus (secara pribadi dan bersama)yang ditujukan kepada Ilahi.

Secara khusus, agama adalah tanggapan manusia terhadap penyataan TUHAN Allah. Dalam keterbatasannya, manusia tidak mampu mengenal TUHAN Allah, maka Ia menyatakan Diri-Nya dengan berbagai cara agar mereka mengenal dan menyembah-Nya.

LALU, siapa bersembunyi di balik kebesaran agama!?  Ada banyak orang biasa, tokoh nasional, politikus, tokoh agama, organisasi, manusia baik, manusia tak baik, pelanggar HAM, pejuang HAM; bisa apa saja dan siapa saja.

Mereka yang bersembunyi di balik kebesaran, biasanya ingin menemukan atau mendapat keuntungan tertentu atau dukungan dari umat beragama.  Karena ingin mendapat dukungan tersebut maka diirinya (diri mereka) akan memoles diri dengan ikon-ikon – lambang-lambang agama dan keagamaan, sehingga menampilkan diri sebagai orang beriman – taat beragama – dan lain sabagainya.

Parahnya lagi, adalah pelaku kekerasan atas nama agama, (juga) bersembunyi di balik kebesaran agama.  Dan itu sangat berbahaya untuk kemanusiaan dan umat beragama.  Karena memunculkan stigma bahwa mereka yang melakukan kekerasan tersebut adalah atau mewakili atau dari kalangan agama tertentu; karena para pelaku kekerasan tersebut menggunakan ikon-lambang yang biasa digunaka dalam/pada agama.

Pada kerangka itu, kebesaran agamadibajak oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab; mereka memiliki nafsu kebencian – permusuhan – merusak – membunuh – dan sebagainya.  Dan jika ada perlawanan terhadap mereka, maka dengan mudah agama dijadikan tameng pelindung; sehingga para pelawan itu (siapa yang melawan tersebut) dituduh sebagai melawan agama; melawan kebesaran agama; menghina agama; dan lain sebagainya.

Nah … karena agama sebagai sesuatu yang esensi dan penuh sensitifitas, maka ketika orang banyak (terutama yang pengetahuan agama pas-pasan), mendapat ajakan untuk atau info tentang adanya perlawanan – penghinaanterhadap agama, maka itu akan menjadi pintu gerbang utama menuju kekerasan dan kebrutalan atas nama agama.

Lalu, apa solusinya agar tidak menjadi bagian dari yang bersembunyi di balik kebesaran agama!?

Solusinya, mungkin sederhana atau pun sulit; namun pada hemat ku, adalah membangun diri sendiri dalam konteks pemahaman agama yang baik dan benar, sehingga mencapai manusia yang dewasa iman – dewasa rohan- dewasa beragama.

Mungkin ada yang lain …!? Dan yang lain itu, bisa anda lakukan.


Kekerasan merupakan tindakan seseorang(gerombolan, kelompok), dengan menggunakan berbagai alat bantu (misalnya senjata tajam dan api, bom bunuh diri, dan lain-lain), kepada orang lain dan masyarakat, yang berdampak kehancuran dan kerusakan harta benda serta penderitaan secara fisik, seksual, atau psikologis bahkan kematian.

Sedangkan, kerusuhan merupakan suatu sikon kacau-balau, rusuh dan kekacauan, yang dilakukan [oleh pergerakan dan tindakan] oleh seseorang maupu kelompok massa berupa pembakaran serta pengrusakkan sarana-sarana umum, sosial, ekonomi, milik pribadi, bahkan fasilitas keagamaan.

Dengan demikian, kekerasan dan kerusuhan sosial,adalah rangkaian tindakan seseorang (dan kelompok massa) berupa pengrusakan dan pembakaran sarana dan fasilitas umum, sosial, ekonomi, hiburan, agama-agama, dan lain-lain. Kekerasan dan kerusuhan sosial dapat terjadi di wilayah desa maupun perkotaan.  Kekerasan dan kerusuhan sosial dapat dilakukan oleh  masyarakat berpendidikan maupun yang tak pernah mengecap pendidikan; mereka yang beragama maupun tanpa agama.

Kekerasan sosial atau tindak kekerasan kepada seseorang serta masyarakat (ertentu), bisa dan biasanya dilakukan terencana (terang-terangan maupun diam-diam) oleh pemerintah, umat (yang katanya) beragama, kelompok suku dan sub-suku, maupun pribadi. Hal itu dilakukan dengan cara-cara bringas, brutal, dan tanpa prikemanusaan dan melanggar HAM. Misalnya, melalui genocide atau pembersihan etnis; pembasmian suku dan sub-suku; perang antar suku; tawuran antar desa; termasuk di dalamnya membunuh bayi laki-laki atau perempuan yang baru lahir, karena dianggap tidak berguna; melantarkan anak-anak cacad fisik dan mental.

Pada umumnya korban kekerasan dan kerusuhan sosial menjadi trauma, telantar, tercabut secara sosial dan geografis, serta dipaksa dan terpaksa melarikan diri lingkungan hidup dan kehidupannya, lalu menjadi pengungsi ataupun mencari suaka di negara lain. Secara khusus, di Indonesia, kekerasan sosial mempunyai karakteristik dan pemicu yang hampir sama.

Sentimen SARA; merupakan sumbangan terbesar dalam kerususuhan sosial; biasanya terjadi akibat adanya berbagai gap pada komunitas masyarakat; termasuk umat beragama yang bertindak atas nama agama sebagai penjaga dan polisi moral; dalam arti kelompok masyarakat agama melakukan pengrusakan fasisilitas umum dan hiburan, karena dianggap sumber maksiat serta melanggar etika dan norma sosial serta agama; pada sikon ini, kadangkala, ajaran agama dipakai sebagai alat kekerasan oleh orang-orang yang penuh iri hati serta munafik; mereka penuh dengan kebencian dan iri terhadap kemajuan orang lain.

OPA JAPPY | JAKARRTANEWS.CO

1,037 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa