Pidato Anies Baswedan | Tanggapan Pakar

Baca

Jakarta News–Tom Pepinsky, dosen perbandingan politik program Asia Tenggara, Universitas Cornell, Amerika Serikat dan Sri Eko Wardani, pengamat politik dari UI, menanggapi Pidato Politik Anies Baswedan.

1. Kolonialisme Masih Penting?

Tom Pepinsky, “Anies mengangkat pesan politik yang merupakan dampak sosial ekonomi dari kolonialisme. Anies percaya bahwa pesan ini masih bergema, dan menurut pandangan saya, ia benar.”

Sri Eko Wardani, pengamat politik dari UI menilai bahwa, “Kaitkan dengan kolonialisme terlalu jauh. Dalam konteks Jakarta saya tak melihat sejauh itu. Seharusnya, pidato Anies bisa merangkul semua kepentingan dan keragaman di Jakarta. Tapi dalam pidato mengucapkan kata seperti itu, memang tendensius karena kata pribumi yang diucapkan dan mengambil konteks kolonialisme.”

Baca

2. Bagaikan Pidato Presiden

Tom Pepinsky, “Pidato ini seperti layaknya seorang calon yang menyiapkan diri untuk pemilihan presiden 2019 dan menempatkan Jakarta sebagai pusat politik dan menempatkan dirinya sendiri sebagai politisi nasional.

Dalam bagian lain pidatonya, ia juga mengutip peribahasa daerah dari seluruh Nusantara (Aceh, Batak, Banjar, Madura, Minahasa, Minang) dan mencoba menunjukkan ke setiap daerah Indonesia, dan mengatakan ‘saya juga berbicara kepada Anda’.”

Sri Budi Eko Wardani, “Sepakat dengan pendapat Pepinsky namun konteks bahasa daerah yang digunakan Anies disebut sebagai upayanya ‘menghargai keragaman Jakarta.’

Dia menggunakan bahasa daerah karena Jakarta adalah melting pot (pembauran). Mungkin ini dianggap supaya dia dianggap menghargai keragaman di Jakarta. Pidato Anies bukan pidato kerja namun politis.”

3. Pidato dengan Target etnik Cina Indonesia

Tom Pepinsky, “Secara khusus, Anies mengaitkan Cina Indonesia dengan masa lama kolonial dan peninggalannya dalam politk sehari-hari. Pribumi mengacu pada keturunan pendatang asing: Cina, Arab, India, Eropa dan yang lainnya.

Anies tampaknya lupa bahwa ia sendiri adalah keturunan Hadrami. Atau mungkin, ia tidak lupa sama sekali namun ia tahu bahwa elite kaya Arab Indonesia tidak pernah mengalami diskriminasi seperti yang dihadapi etnik Cina Indonesia di kota-kota seperti Jakarta.”

Sri Eko Wardani, “Gubernur baru Jakarta ini ‘membuat sekat baru.’ Jakarta ini sudah sangat kota megapolitan yang dibangun dengan keberagaman dan kata pribumi yang diucapkan di situ, orang langsung mengacu ke Pilkada DKI dengan gubernur yang dikalahkan adalah etnik Tionghoa dan ada segregasi kelompok etnik dan kelompok pribumi yang memang pada masa kolonial digunakan oleh pemerintah penjajah untuk memecah belah.

Anies tak sensitif dengan konteks pilkada yang baru saja dilalui.

Bagi pemilih Basuki mereka masih menanti apa yang akan dikerjakan gubernur baru. Ini seolah kemudian membuat sekat baru, ini dari awal kok sudah kurang simpatik.

Pidato Anies Baswedan merupakan ‘pidato politik dan bukan pidato kerja gubernur baru;’ bahkan justru memunculkan kata pribumi sehingga asosiatif (dikaitkan) dengan isu SARA yang muncul pada saat pilkada (lalu).

Baca

Baca

Baca

Selain hal-hal di atas, menurut Tom Pepinsky, “Sulit untuk memprediksi konsekuensi pidato ini bagi Jakarta dan politik di Indonesia. Pada pelantikan Anies, kata-kata ‘pribumi nonpribumi’ masih hidup dan berjalan dalam politik Indonesia dan bahwa seorang politikus terkemuka mengeksploitasi ini adalah politik yang lihai; sangat jelas anti-Cina dalam praktiknya.”

Sumber:
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41653854

Editor: Jakarta News
Code 001 55 14

Baca

Baca

55,273 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Share Button

REDAKSI

Suarakan Kebebasan