Pidato Lengkap Wapres di Tanwir Muhammadiyah Ambon 26 Februari 2017

SAMBUTAN WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DR. H.M. JUSUF KALLA

PADA PENUTUPAN TANWIR MUHAMMADIYAH TAHUN 2017 DI AMBON, 26 FEBRUARI 2017

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Alhamdulillahirabbil’alamin washalatuwassalamu’ala asrafil ambiyai walmursalin sayyidina muhammadin wa’ala ali washahbihi ajma’in

Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semuanya.

Yang saya hormati Gubernur Maluku, Wakil Gubernur Maluku, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Bapak Haedar Natsir beserta Ibu, para pimpinan daerah, hadirin-hadirat, wabil khusus para peserta tanwir pada hari ini.

Marilah kita selalu bersyukur kehadirat Allah SWT, atas kesempatan kita semua hadir dalam acara ini. Sebenarnya, biasanya kalau Presiden membuka, saya tidak perlu datang lagi. Tapi karena ini Muhammadiyah dan Ambon sekaligus, kedua-duanya memberikan arti hidup dan pengalaman hidup kepada saya saya, maka insya allah saya hadir dalam acara penutupan. Apalagi tema tanwir ini adalah tema yang sangat penting pada dewasa ini, sangat mendesak, dan sangat penting bukan hanya untuk kita dibicarakan, tapi juga dilaksanakan sebaik-baiknya.

Kedua tentu saya ingin sampaikan penghargaan atas segala upaya, amal ibadah, amal sosial, yang selama ini tentu telah dilaksnaka dengan sangat baik oleh Muhammadiyah dimanapun berada. Termasuk tentu langkah-langkah yang telah dilakukan untuk Indonesia berkemajuan yang adil dan makmur untuk kita semuanya.

Apabila kita bicara tentang kedaulatan dan keadilan, masalah ini bukan hanya menjadi masalah di negeri ini, di seluruh dunia telah menjadi masalah yang harus diperbaiki dan dilaksanakan. Satu kehidupan dunia yang sekarang ini mempunyai kesenjangan yang luar biasa, antara negara-negara maju dan tidak maju.Di antara negara-negara itu sendiri juga mengalami banyak ketimpangan. Bukan hanya negara yang miskin, tapi negara yang maju seperti, Amerika jug mempersoalan masalah ketimpangan, antara 1% yang menguasai 99%. Juga di negara Eropa ini juga menjadi perhatian, apalagi negara-negara Asia., Afrika dan sebagainya. Karena itulah faktor keadilan menjadi faktor yang harus kita perhatikan untuk kemajuan dunia dan bangsa kita secara keseluruhan.

Apalagi Indonesia yang telah menetapkan keadilan sosial itu sebagai suatu falsafah yang tinggi untuk bangsa ini. Saya sependapat dengan banyak pembicaraan seperti Buya, bahwa Pancasila bukanlah hal yang tidak kita laksanakan, hanya sila kelimanya yang paling sulit dan paling telat kita laksanakan. Karena itu adalah sangat tepat bahwa Muhammadiyah pada tanwir ini membicarakan hal itu, untuk kita laksanakan hari ini dan ke depannya. Tanpa itu bangsa ini akan tercecer.

Apa itu keadilan? Saya memberikan contoh yang sederhana. Pada tahun 2007 bulannya seperti ini, Februari, banjir besar di Jakarta, tapi di Jakarta ada beberapa pintu air untuk melindungi daerah-daerah yang penting. Salah satu pintu air itu di Manggarai. Kenapa ada pintu air di Manggarai? agar Menteng jangan terkena kebanjiran. Menteng kita tahu semua, termasuk kantor Muhammadiyah dan juga rumah saya sekarang ini, agar aman. Hujan deras, dijaga oleh Polisi agar pintu air jangan dibuka, maka banjirlah Manggarai. Rakyat yang tinggal di sekitar situ kebanjiran, mereka marah. Akhirnya Gubernur, pak Sutiyoso dengan terpaksa membuka pintu air dan banjirlah Menteng sampai ke Istana, dan orang Manggarai tepuk tangan bahwa dia sudah sama dengan siapapun, keadilan tercapai.

Jadi keadilan itu bisa sama rata sama rasa, tapi apakah keadilan begitu yang kita harapkan? Tentu bukan sebenarnya. Yang kita harapkan ialah Menteng tidak banjir, tapi Manggarai juga tidak banjir. Itu namanya keadilan turun ke bawah, yang kita harapkan ialah naik ke atas keadilannya. Bahwa Menteng tidak banjir, dan semua juga tidak banjir. nah, itulah salah satu intropeksi kepada kita semua, apa yang kita harapkan dengan keadilan, bahwa kita menikmati suatu kemajuan secara bersama-sama. Tidak sebagian kecil saja yang menikmatinya. Atau berkemajuan itu, semuanya maju, itu contoh yang harus kita laksanakan.

Tentu akhir-akhir ini banyak data yang kita lihat tentang apa arti berkeadilan itu. Orang bicara generatio yang 0,4 tapi itu karena konsumsi. Saya tanya BPS, kok baik? Ya pak, memang karena yang kita bisa tanya ialah orang-orang yang tidak mampu, konsumsinya berapa? Tentu sederhana, begitu ditanya orang gedongan, pintunya terkunci yang keluar hanya pembantunya, jadi dijawab seadanya. Tetapi kalau diukur dari segi pendapatan, ketimpangan jauh lebih tinggi, bisa 0,7%, bisa 50% tinggi daripada apa yang diukur dari konsumsi.

Baru kita baca beberapa hari kemarin bahwa satu-empat orang kaya bisa sama dengan 100 juta orang yang tidak mampu pendapatannya. Banyak sekali data yang dapat kita simpulkan bahwa memang bangsa ini mempunyai tingkat keadilan yang sangat rentan.

Di Indonesia selama merdeka kita terjadi 15 kali konflik besar. Dan di antara 15 kali konflik itu, 10 karena ketidakadilan, ketidakadilan politik, ketidakadilan ekonomi, antar daerah dan sebagainya. Orang banyak mengira bahwa di Ambon, di Poso itu konflik agama, itu hanya akibat saja. Karena adanya kesenjangan politik dan ekonomi di dua daerah tersebut. Aceh orang mengira masalah agama, tidak. Karena mereka kaya tetapi mendapat sedikit. PRRI/Permesta lebih lagi, ketidakadilan daerah. Semua itu menjadi beban dan fikiran pemerintah untuk memperbaikinya.

Banyak hal telah kita lakukan, pajak yang tinggi, memberikan subsidi kepada barang-barang yang dibutuhkan, memberikan pelayanan kesehatan, memberikan kredit murah kepada rakyat kecil, KUR. Tapi tidak cukup untuk memperbaiki kesenjangan yang terjadi. Ketidakadilan yang terjadi. Tidak ada langkah yang gratis, tidak ada langkah dengan orasi saja, tidak ada. Langkahnya adalah harus melangkah bersama untuk memperbaiki ini semuanya. Tapi inti daripada itu semua adalah memang kita harus berbuat lebih banyak lagi.

Kalau kita lihat di dunia ini, penduduk dunia ini 6 miliar orang. Yang Islam 1,6 miliar berarti kurang lebih 26%. Di Indonesia penduduk kita 255 juta orang hari ini, itu sama dengan 4% penduduk dunia, tapi yang Islam 210 juta kira-kira, itu berarti kita 13% dari seluruh penduduk Islam dunia ada di Indonesia. Artinya adalah, apabila ada masalah tentu sebagian besar terjadi dikalangan umat yang harus kita majukan secara bersama-sama dengan umat lainnya.

Karena itu pernah ada ceramah ustadz, kebetulan di rumah saya, melihat orang haji di Mekkah, yang paling banyak dia lihat orang Indonesia, karena itu memang kuotanya harus persentase, karena itu yang paling banyak naik haji itu orang Indonesia. Karena itu juga, di surga saya yakin yang paling banyak juga orang Indonesia. Tapi sebaliknya, kalau 50% masuk neraka maka yang paling banyak di neraka juga orang Indonesia. Jadi itu risiko sebagai bangsa dengan jumlah yang sangat besar untuk kita semuanya. Langkah-langkah itu adalah langkah-langkah bersama yang kita harus lakukan.

Karena kedaulatan, kalau kedaulatan Insya Allah kita berdaulat, kita tidak diragukan lagi. Terkecuali ada sisi-sisi yang lain, sisi ekonomi kadang-kadang kita tidak bisa berbuat banyak karena kemampuan modal dan sebagainya. Walaupun kita mempunyai suatu kekayaan kultur yang sangat tinggi. Tadi pak Gubernur sudah menguraikan di Maluku saja demikian kaya kita dengan kultural dan perbedaan-perbedaan yang mempersatukan kita semuanya.

Kita juga negara kepulauan yang terbesar di dunia ini. Karena itu visi kita, kita merubah, dahulu kita mengatakan Selat Makassar memisahkan Sulawes dengan Kalimantan, Laut Jawa memisahkan Jawa dan Kalimantan, Selat Sunda memisahkan Jawa dengan Sumatera. Kita mesti balik, Selat Makassar menghubungkan Kalimantan dengan Sulawesi, Selat Sunda mempersatukan Jawa dengan Sumatera, begitu juga yang lain-lainnya. Mempersatukan dengan arti upaya keras membuat suatu hubungan-hubungan yang baik.

Dengan langkah-langkah itu maka apa yang dapat memajukan suatu bangsa? kenapa suatu bangsa maju sementara yang lain tidak maju? Banyak orang mengatakan bangsa maju karena dia kaya sumber daya alam, seperti Amerika dan sebagainya. Tapi ada juga negara yang sama sekali tak punya sumber daya alam tapi maju, seperti Jepang, Korea dan sebagainya. Kita kaya, tetapi kenapa kita secara income per kapita masih kalah jauh dengan Malaysia. Tentu bukan karena sumber daya alam saja.

Ada juga yang mengatakan suatu bangsa maju karena sejarahnya yang panjang. Banyak negara yang muda, seperti Australia, New Zealand, Singapura, jauh lebih muda dibanding Mesir, India dan sebagainya, tapi dia lebih maju..Banyak orang dulu mengatakan bahwa Singapura kecil maka gampang maju. Tapi begitu China maju, kita tidak bisa kemukakan alasan apa lagi yang mesti kita sampaikan. Karena negara kecil maju, negara besar juga maju. Kita, alhamdulillah negara menengah jadi mempunyai kesempatan untuk maju lebih baik daripada negara-negara itu.

Apa sebab negara maju itu? Cuma satu sebab, yaitu mereka mempunyai kesamaan semangat, semangat untuk maju. Karena itulah apabila kita berada di lingkungan Muhammadiyah dan juga teman-teman yang lainnya maka yang sangat penting ialah meningkatkan semangat kita untuk maju, semangat untuk bersama-sama untuk maju. Semangat itu bisa dilengkapi dengan pendidikan yang baik, dengan etika yang baik, dengan kejujurann yang baik dan semua itu dapat dipunyai dengan dakwah yang baik. baik Islam, Kristen, Katholik, mempunyai kesamaan akan hal tersebut untuk memberikan semangat dan maju.

Karena itu maka dalam tanwir ini, tentu tadi telah banyak upaya-upaya untuk memberikan kita semua, upaya semangat untuk maju, memberikan harapan kepada semua orang. Karena banyak hal, apabila semangat dan kemudian terjadi ketimpangan yang besar bisa menimbulkan masalah suatu bangsa.

Saya ingin mengingatkan kembali apa yg terjadi di Timur Tengah, Arab Spring, mulai dari Tunisia, Mesir, Siria dan sebagainya, hancur lebur akibat mulai daripada ketimpangan, mulai daripada kesenjangan yang mereka merasa tidak adil, dan mulai bergerak, dan kemudian juga ditopang oleh gerakan dari negara besar luar untuk menjadikan mereka ajang daripada konflik.

Kita hadir di sini sebagai suatu bangsa, kita mengharapkan, kita semua menghindari hal-hal seperti yang terjadi di Timur Tengah itu. Di antara 50 negara Islam, yang berpenduduk Islam, karena kita bukan negara Islam dalam arti kata Undang-undang, kita punya penduduk mayoritas Islam. Tingal Indonesia, Malaysia, dan Brunei yang alhamdulillah mempunyai rasa aman yang lebih baik dibandingkan dengan negara-negara yang lain. Semua itu dimulai dengan ketidakadilan dan mempunyai suatu penghambur-hamburan sumber daya alam daripada negara-negara tersebut. Apakah itu Libya, apakah itu Siria, apakah itu Iran, apakah itu Irak, apakah itu Nigeria, apakah sudan. Semuanya mempunyai akibat-akibat yang dalam kepada rakyatnya. Karena itulah, kita semua kembali mempersatukan itu.

Kita mempunyai pengalaman-pengalaman juga, tetapi alhamdulillah, semua kita dapat atasi dengan baik. Kita semua bersaudara untuk mengatasi hal tersebut. Memang kesenjangan di Indonesia, kita mempunyai kesenjangan yang cukup berbahaya dibanding dengan negara lain. Di Thailand juga mereka ada kesenjangan. Diukur daripada jumlah kesenjangan, dia nomor 6 di dunia menurut laporannyaa. Tapi di Thailand yang kaya memang juga orang Tionghoa tapi sama agamanya, yang miskin orang Budha. Di Filipina juga, yang kaya-miskin sama sukunya, sama agamanya.

Kalau kita agak berbeda, sebagian besar yang kaya itu keturunan dan tentu agamanya ada yang Konghucu, ada yang Budha, ada yang Kristen. Sebagian besar yang miskin itu Islam ada juga yang Kristen. Jadi terjadi perbedaan yang berbahaya. Karena itulah maka kita harus berfikir jernih untuk mengatasi semua ini. Karena itu marilah kita bersama-sama bekerja, untuk keadilan dan Indonesia yang berkemajuan.

Pemerintah, seperti tadi disampaikan, memberikan kebijakan dan tentu juga menyiapkan anggaran yang cukup besar untuk itu. Pembangunan dimana-mana, jalan dan sebagainya itulah untuk memperbaiki ekonomi daerah itu. Pembangunan pendidikan, memberikan subsidi untuk bahan makanan dan sebagainya adalah cara memberikan jaminan kesehatan, membangun ekonomi secara bersama-sama. Tapi ada satu hal yang tidak dapat diberikan oleh pemerintah yakni mendorong umat kita semua, mendorong umat beragama untuk mempunyai inovasi, kemauan kerja, dan sebagainya.

Orang mengatakan untuk maju harus bekerja keras, itu benar juga, tidak salah, cuma tidak cukup. Kalau diukur daripada orang bekerja keras, siapa yang bekerja paling keras dibandingkan petani. Subuh sampai sore mereka berada di sawah, kepanasan kerja terus tapi pendapatannya tidak lebih dari sejuta sebulan. Tapi orang bekerja smart, bekerja dengan ilmu, bekerja dengan inovasi mungkin hanya 6 jam tapi menghasilkan puluhan kali lipat dari petani. Artinya adalah kita semua harus mendorong masyarakat, umat kita bekerja keras dengan inovasi, dengan bekerja yang smart, yang tepat, dengan memasukan ilmu pengetahuan dalam pekerjaan. Barulah kita dapat mengatasi kemajuan yang adil itu.

Pemerintahan apapun dilaksanakan tanpa peran serta masyarakat, tidak akan muncul. Karena itulah maka selalu saya menganjurkan, juga sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia, para jamaah di masjid-masjid, para mubaligh, para pendeta, para pastor, bukan hanya berbicara tentang haram-halal, bukan hanya bicara tentang surga-neraka, bukan hanya bicara tentang etika keagamaan, bukan hanya bicara tentang falsafah keagamaan, tapi selalu berbicara tentang bagaimana kemajuan yang harus dicapai bersama.

Saya selalu mengulangi secara sederhana doa kita, rabbana attina fi dunya hasanah wa fil akhirati hasanah, selalu kemajuan dunia terlebih dahulu daripada kemajuan akhirat. Tanpa itu maka kita tidak bisa mencapai kemajuan akhirat tanpa kemajuan dunia. Barulah keadilan dapat kita ciptakan dengan dukungan pemerintah.

Disamping kita tidak diskriminasi karena Undang-undang, tapi kita perlu afirmasi, memberikan keutamaan. Pemerintah sekarang telah merancang afirmasi apa, keutamaan apa yang diberikan kepada pengusaha kecil agar menjadi besar, pengusaha menengah agar lebih besar lagi. Siapapun di negeri ini yang membutuhkannya.

Kita tidak diskriminatif dalam agama, tapi kita diskriminatif dalam keutamaan, memberikan dorongan bahwa pengusaha kecil harus diberikan kredit lebih murah dibandingkan pengusaha besar. Pengusaha menengah harus diberikan kesempatan lebih banyak dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Tanpa itu tidak akan kita ciptakan keadilannya. Tanpa itu keadilan hanya retorika, tanpa itu kita hanya mengeluh dan mengeluh terus-menerus. Itulah kita harapkan semuanya dalam tanwir ini, untuk menjadikan ini sebagai pendoman. Dan saya yakin Muhammadiyah dengan pengalaman-pengalaman yang lebih dari 100 tahun membina umat, membina masyarkat, baik dalam kesenangan dan kesulitannya, baik dalam dunia dan akhirat, baik dalam urusan sosial tentunya harus menjadi bagian dalam kemajuan ini dengan tindakan-tindakan yang baik.Intinya ialah berikan semangat kepada umaat kita, berikan kesamaan kepada umat semua agama untuk maju secara bersama-sama.

Memang selalu kita harus bersyukur dan ikhlas, tapi dalam bersyukur selalu ada tingkatannya. Dulu kita bersyukur kalau kita punya sepeda, tapi sepeda bisa masalah sekarang ini maka mesti baru bersyukur kalau punya motor, lama-lama bersyukur itu kalau ada mobil. Itulah, sama dengan ilmu pengetahuan, sama juga dengan dalam agama, tingkat tertentu, harus lebih berkemajuan. Karena apabila tanpa itu maka kita tidak bisa mencapai kebersamaan.

Kita tidak ingin, tadi penyelesaian keadilan dengan cara Manggarai. Artinya baru adil kalau kita sama-sama susah, bukan itu, kita merasa adil kalau sama-sama senang. Sama-sama susah juga adil kalau sama-sama, tapi itu bukan tujuan. Tujuannya ialah sama-sama senang, sama-sama maju, dan sama-sama menikmati bangsa ini. Kita mempunyai banyak modal untuk itu dan karena itulah Bapak-Ibu sekalian, marilah kita semua memberikan hal-hal yang baik.

Banyak hal-hal sederhana, contohnya masih banyak masyarakat kita ingin memenuhi rukun Islamnya dengan haji, tapi walaupun tidak mampu, menjual sawah untuk naik haji. Itu harus kita memberikan pengertian bahwa anda belum wajib karena belum mampu, namanya jual sawah bisa terjadi pulang haji tapi nanti lebih miskin. Sama juga di tempat lain, sama juga di Jakarta. Memang ini selalu ada hubungannya dengan aspek-aspek politik, yaitu politik itu harus menjadikan kita semua mendorong kemajuan itu, jangan justru mengurangi tingkat kemajuan itu.

Kita mempunyai banyak rencana, kita harus melunasi utang kita kepada bangsa ini. Saya sebagai Wakil Presiden tentu turut bertanggung jawab bahwa kita belum mencapai kemajuan sebagaimana kita harapkan, adil dan makmur. Kebutuhan dasar negara pun belum seluruhnya kita penuhi. Setiap presiden selalu menjadikan kebutuhan dasarnya, Bung Karno-Bung Hatta tandaskan sandang pangan papan. Kita baru penuhi sandang, pangan belum 100%.

Karea itulah maka dalam pertemuan dengan Gubernur Maluku di Jakarta, di pemerintah, kita harus memajukan bangsa ini dari intinya dari masyarakatnya. Dulu di Maluku ini datang orang dari jauh, dari Barat hanya untuk mencari rempah-rempah. Sekarang ini cengkeh kita sudah impor lagi, pala pun kita impor lagi akibat kekurangan produksi dan kenaikan konsumen. Marilah kita membina itu lagi, mendorong itu lagi. Pak Gubernur tentu sudah mendorong kembali bagaimana mereka menghasilkan yang terbaik daripada hasil utamanya, karena dunia sudah kembali ke alam, tidakmau lagi yang serba kimia. Ingin yang serba alamiah, ingin minyak cengkeh, ingin minyak yang lain-lainnya, daripada yang kimia bisa berbahaya itu hidup ini. Semuanya itu merubah dunia ini. Karena itulah maka kita harus memperbaiki itu semua.

Karena itulah maka mudah-mudahan hasil tanwir tadi yang sudah dibacakan, disamping kita mendengarkannya juga tentu kita bersama-sama melaksanakannya. Karena itulah maka menjadi tangung jawab kita semuanya.

Tadi pak Gubernur membacakan pantun, maka saya juga mesti mebalasnya, walaupun saya baru tulis:
Ke Ambon menari Lenso dengan suara Tifa,
Malam hari makan ikan dengan Papeda.
Tanwir Muhammadiyah untuk Indonesia berkemajuan,
Kita semua rapatkan langkah untuk kebaikan.

Terima kasih, dan dengan resmi kita tutup tanwir ini.

Wabillahittaufiq wal hidayah
Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Transkripter: Arief Hendratno Arief

Posting Oleh Opa Jappy | Jakarta News

178,311 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa