Pilkada DKI Merusak Akal Sehat

JAKARTA/JNC – Pilkada DKI Jakarta adalah ranah politik; bukan yang lain. Pada dasarnya sama dengan Pilkada pada daerah lainnya di Nusantar. Namun, Pilkada DKI menjadi sangat istimewa karena sebagai barometer penerimaan publik terhadap Parpol dan Politisi.

Dengan demikian, terjadi “lomba rampasan pengaruh” politik di Jakarta; dan itu dilakukan dengan banyak cara, termasuk gunakan teks-teks Kitab Suci ataupun ajaran agama.

Hal yang seperti di atas termasuk apa!?

Hubungan Politik – Agama atau Agama – politik; atau Politik yang bergantung pada teks-teks Agama; atau agama digunakan untuk menolak lawan politik; atau juga campur baur menjadi satu, sehingga jadi seperti itu.

Lepas dari benar atau salah secara agama; itulah pandangan politk yang diwarnai atau dilatarbelakangi dengan pandangan keagamaan.

Anda mau terima atau tidak terserah; itulah keputusan mereka.

Mari kita tak melihat hal di atas sebagai sesuatu yang SARA, melainkan dari sisi atau pun sikon pergaulan sosial dan masyarakat di RI; di RI yang masyarakatnya datang dari berbagai latar belakang etnis – agama – kepercayaan.

Jika, dibawa ke ranah pergaulan hidup dan kehidupan setiap hari, anda bisa bayangkan, apa jadinya dengan hubungan inter-sosial tersebut!?

Kita, sebagai rakyat – bangsa Indonesia, agaknya perlu belajar dan terus menerus belajar, sehingga mencapai kedewasan berbangsa – bernegara dalam konteks Nusantara dan berwawasan Nusantara. Karena hanya dengan itu, bisa dan mampu mengkesampingkan aneka perbedaan, dalam rangka membangun bangsa untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Agaknya, manusia yang beragama (terutama para pemimpin keagamaan) menjadikan agama sebagai identitas kelompok bangsa, suku, dan sub-suku. Agama seringkali digunakan sebagai simbol perbedaan pada masyarakat.

Agama tidak lagi menjadi sarana utama untuk menyembah TUHAN, melainkanlambang pembeda seseorang dengan yang lain.

Bahkan, agama telah menjadi sarana untuk menggapai kedudukan dan kekuasaan politik serta alat penindasan terhadap sesama manusia. [Opa Jappy, 8 Agustus 2012 pukul 9:15]

Di atas, tulisan saya pada jelang Pilkada DKI Jakarta 2012. Jokowi – Ahok mendapat serangan dari banyak kalangan karena faktor Ahok.

Kini, serangan yang sama terulang, bahkan lebih dasyat dan sangat tak bermartabat dan menjurus pada perpecahan sosial.

Lebih dari, agaknya hanya karena Basuki Tj Purnama, karena sepak terjangnya, telah membuat banyak orang kehilangan akal sehat. Akal merka menjadi sakit dan rusak.

Bayangkan saja, ada yang mendukung Ahok dengan sangat militan, seakan ia manusia setengah dewa.

Juga, ada yang menolak Ahok seakan ia adalah Kepala Gang Penjahat atau baru saja migrasi dari Neraka.

Nah.

Itulah mereka yang akal sehatnya telah rusak.

JAKARTA NEWS

125,651 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa