PKS Ingin Jakarta Seperti Istanbul, Turki


Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman menyatakan ingin kota  Jakarta seperti Istanbul ( negara Turki) bila kelak Anies-Sandi resmi memimpin Jakarta. Demikian salah satu pesannya pada Halal bi halal Fraksi PKS bersama tokoh dan ormas Islam pada hari Selasa (25/7/2017).

Terkait kepemimpinan, PKS sangat bangga bahwa Jakarta dipimpin oleh pemimpin muslim. Secara terbuka dia “mencontohkan” pemimpin Turki Erdogan sebagai  pemimpin dan negara Muslim yang berhasil dan membanggakan. Tak lupa juga Sohibul Imam mengaitkan dengan kepemimpinan DKI sebelumnya, bahwa Anies/Sandi harus lebih baik dari Ahok/Jarot. Muaranya adalah cita-cita PKS menjadikan Indonesia yang memiliki masyarakat muslim terbesar menjadi negara yang berkontribusi besar bagi perkembangan peradaban dunia.

Terkait persoalan kota, bisa timbul beberapa pertanyaan. Apakah Istanbul bisa jadi rujukan kota ideal bagi masyarakat multikultur Jakarta? Apa kehebatan Istanbul sebagai kota modern dan kosmopolitan dibandingkan Jakarta saat ini? Apa saja yang akan “diambil” dari Istanbul untuk di pakai di Jakarta sehingge kedua kota itu menjadi saling “seperti”?

Persoalan Dasar Kota

Persoalan kota menyangkut hal yang multidimensi. Setiap tempat/wilayah (kota) punya settingdiri yang tidak sama, baik didasarkan aspek historis, geografis, geopolitis, sosial, ekonomi, politik,  budaya, dan lain sebagainya. Semuanya itu menghasilkan “karakteristik” suatu kota yang tidak sama satu dengan lainya. Karakteristik itu menciptakan Genius Lociatau Jiwa Tempat/Jiwa Ruang. Untuk lebih dalam bisa baca “buku klasik” tentang teori Arsitektur Kota, judulnya “The Image of The City” (Kevin Lynch, 1975).

Sebagai contoh pemahaman sederhana soal Genius Loci ; semaju-hebatnya pembangunan kota Surabaya tetaplah suasananya serasa di Surabaya, bukan jadi rasa Jakarta, Bandung atau kota lainnya. Sehebat-hebatnya pembangunan kota Yogyakarta tetaplah suasanya serasa Jogya (Berhati Nyaman-moto kota Yogya), bukan serasa di Jakarta, Surabaya, Makasar dan kota lainnya.

Konteks Genius Locikota merupakan  kemampuan budaya setempat (wilayah itu) menghadapi pengaruh kebudayaan luar. Derasnya pengaruh luar (modernitas) seringkali tak bisa dihindari, namun sejatinya hal itu tidak menjadikan suatu  kota kehilangan jatidirinya. Maka, kota yang berhasil adalah kota yang mampu melakukan Akulturasi-disini dapat diartikan pembangunannya maju dan modern namun “tetap terasa nilai lokalnya”.

Sebuah “local genius loci” kota memuat hakikat kemampuan bertahan, mengakomodasi, mengintegrasi, mengendalikan pengaruh luar sekaligus mampu memberikan arah perkembangan budaya lokalnya yang telah lama ada.

Aspek Historis dan Sosiocultural Kota

Kota Istanbul memiliki aspek historis dan budaya masyarakatnya yang khas yang telah ada sejak ribuan tahun lalu. Jiwa tempat (Genius Loci) nya beraroma Islam. Hal ini didukung konteks negara Turki yang berada diantara dua dunia yakni Barat (Eropa) dan Timur (Asia Barat) sehingga Turki dikenal sebagai negara transkontinental

Kota Jakarta juga memiliki aspek historis dan budaya masyarakatnya yang khas sejak ratusan tahun lalu. Sebagai ‘penanda’ ciri yang kuat, Jakarta-dulunya disebut Batavia-merupakan kota dagang nusantara dan regional dibawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Disamping itu ada budaya Betawinya yang sangat kental. Disisi lain Jakarta adalah juga kota perjuangan kemerdekaan Indonesia yang sangat historical dan berpengaruh pada wujud Jakarta saat ini. Wujud kota yang muncul pun hasil Akulturasi Hindia Belanda-Betawi-Perjuangan dan adanya para pendatang dari seluruh nusantara-secara ekonomi (dagang). Satu hal lagi bahwa kini Jakarta adalah sentral negara Indonesia yang multikultur (internal) dan tak lepas dari  pengaruh luar (regional Asia Tenggara dan dunia). Lalu, bagaimana Jakarta “bersikap” sehingga menentukan Genius Loci-nya?

Secara genius loci, sejak dulu Jakarta punya Jiwa Tempat tersendiri yang sangat ‘Berbeda’ dengan Istanbul. Kota Jakarta bukan kota beraroma Muslim dan bukan transkontinental seperti Turki. Jakarta adalah bagian dari Indonesia yang merupakan negara “Sabuk Khatulistiwa”.

Membangun Jakarta “seperti Istanbul” seharusnya bukan berarti menjadikan Jakarta beraroma kota muslim seperti Istanbul yang sejarahnya ditakdirkan berada di antara peradaban Barat dan Timur. Konteks sosiokultural dan historis Jakarta dan Istanbul tidak sama. Hal ini yang perlu dipahami dalam melihat ide Presiden PKS Sohibul Iman

Ide menginginkan Jakarta seperti Istanbul pada konteks kemampuan menciptakan Genius Loci dengan Local Genius nya sungguh baik. Dan secara arsitektur kota harusnya memang demikian. Tinggal bagaimana sang pemimpin wilayah (kota) Jakarta bersama masyarakat bahu membahu menggali Local Geniusuntuk dijadikan dasar menciptakan Genius Loci Jakarta yang khas-yang tidak ada duanya dibelahan manapun di dunia ini.

Untuk melakukan semua hal ini, butuh pemimpin wilayah (kota) yang berkarakter kuat, tidak mencle-mecle dan dekat dengan masyarakatnya. Dari sinilah akan tercipta nilai peradaban kota itu sebenarnya ; bahwa Local GeniusJakarta bisa menjadi bagian dari ‘Oase Dunia’ dan kiblat peradaban dunia. Inilah tantangan Anies-Sandi bila kelak ingin menjadikan Jakarta bagian dari peradaban dunia.

Semoga pernyataan Presiden PKS dan  tulisan ini bisa dipahami secara jernih.  (Peb26/07/2017)

Salam

Febrianov | Kompasiana

Jakarta News | code 70 005 6

 

70,527 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa