Pra-Kampanye Hitam

1402370957-56ffc3022423bd49093404c4

JAKARTA/JNC – Sederhananya, kampanye adalah memberitakan (menyampaikan sesuatu melalui tulisan, gambar, suara dengan berbagai media) daya tarik untuk mendapat perhatian, dukungan, dan pilihan. Isi pemberitaan itu, antara lain kapasitas, kualitas, bobot, prestasi, kelebihan (berdasar data, fakta, arsip, hasil yang telah ada/dicapai), dan keuntungan jika memilih sesuai yang dikampanyekan. Kampanye bisa dan biasa dilakukan oleh/pada berbagai kegiatan; dan utamanya pada proses pemilihan pimpinan (dan pengurus) di pada organisasi tertentu (ormas, keagamaan, kegiatan sekolah, kampus, dan partai politik), dan yang paling umum dilakukan adalah pada kegiatan politik.

Bagaimana dengan Kampanye Hitam;!? singkatnya adalah lawan dari Kampanye. Kampenya Hitam bisa bermakna memberitakan dan menyampaikan sesuatu yang tidak berdasar (bahkan memutarbalikan) fakta, data, arsip, dan hasil yang telah ada/dicapai, berita, dan kabar bohong tentang seseorang (dan organisasi) yang menjadi kompetitor, lawan, dan saingan pada proses pemilihan. Dengan demikian, tujuannya adalah menimbulkan ketidaksukaan (bahkan kebencian) terhadap lawan, saingan, dan kompetitior, dan selanjutnya anggota organisasi, publik, atau pun komunitas tak memilih orang, institusi yang pokok pemberitaan pada Kampanye Hitam.

Sekarang ini, di Jakarta, masih merupakan “persiapan” menuju Pilkada DKI, warga akan memilih Gubernur dan Wagub. Sejumlah Parpol dan perorangan siapkan diri menuju arena “perembutan takhta DKI 1 dan 2” tersebut.

Mereka melakukan banyak hal dalam rangka menarik perhatian publik. Mulai dari tunjukkan kehebatan diri, hingga pamer perhatian melalui “mungut sampah jalanan;” mulai dari senyum carah ceria, hingga ungkaapan ketidaksukaan. Dan, parahnyaa, ada (bakal) kandidat melakukan serangan kepada yang lain dengan irama serta nada rasis, fitnah, dan penistaan. Bahkan, menyerang komunitas agama; misalnya Ahmad Dhani yang meng-LGBT-kan semua pemimpin bukan Islam.

Model dan cara-cara seperti itulah, yang saya sebut sebagai “pra-kampanye hitam;” belum kampanye Pilkada, tapi sudah melakukan pembusukan terhadap bakal kandidat, pendukungnya, dan komunitas agama.

Dengan demikiaan, “pra-kampanye hitam” merupakan suatu bentuk ujar kebencian, fitnah, dan penistaan; ujar kebenciaan terhadap perorangan dan kelompok, termasuk komunitas umat etnis dan umat beragama.

Kenyataan tersebut, apa yang perlu dilakukan!?

Mungkin saja, bukan domainnya KPUD Jakarta, karena belum masuk tahapan Pilkada DKI; jadi tak bisa buat banyak.

Lalu siapa yang harus bertindak!!? Pertanyaan tak terjawabkah!?

Agaknya karena tak ada yang bertindak, maka mereka yang menjadi penolak dan pendukung Bakal Kandidat DKI 1 dan 2, begitu leluasa melakukan hal-hal yang bisa dikategorikan sebagai ‘ujar kebencian.’ Mereka, para pelaku ujar kebencian, melakukan dengan bebas merdeka karena merasa aman, pas, serta merupakan sesuatu yang benar serta penuh kebenaran.

Hmmmmm …. …….

OPA JAPPy – JAKARTANEWS.CO

5,393 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa