Renungan, “Kita Mau Berhari Raya atau Siaga Perang!?”

JAKARTA/JNC – Sejak subuh, pagi, dan malam ini, suasana Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tempat ku ada dan berada, sunyi sepi, karena banyak pendatang telah pulang ke kampung halaman. Sikon yang sama, pastinya terjadi di seputar Ibu Kota, para pekerja dan pecinta kampung halaman, pulang ke rumah untuk rayakan Idul Fitri.

Saya, yang Natalan, menikmati kesendirian dan kesepian waktu; duduk berhadapan dengan jalan raya dan rel kereta api, yang sesekali melintas mobil, motor, dan commuter line.

Tapi, ternyata kesepian itu, cuma sebentar.

Pagi hingga siang, dan terus terjadi, apalagi setelah terjadi upaya “peledakan” Mapolres di Solo, raungan mobil polisi, dari arah Asrama Korps Brimob Mabes Polri, terus melintas di depanku.

Sirene berbunyi nyaring, mobil angkut personil, penjinak bom, bahkan “mobil” senjata ringan, meluncur ke arah Jakarta.

Ada apa gerangan!? Seorang teman memberi info bahwa sejumlah besar tempat ibadah di Jakarta, Mesjid, Gereja, Pura, dan lain sebagainya, mendapat pengamanan tambahan; termasuk objek vital milik negara, area publik, serta kantor polisi.

Lho, kita khan mau berhari raya; tapi ko’ ada pengerahan aparat keamanan yang berlapis!?

Mengapa seperti itu!?
Itulah Indonesia kekinian.
Itulah Nusantara masa kini.

Sejak tahun 2000, utamanya, ketika itu, di Malam Natal sejumlah Gereja mendapat serangan bom, sikon jelang hari raya keagamaan, termasuk Idul Fitri “berubah wajah.”

Wajah cerah ceria, suka cita, gembira, riang, dan semarak, harus terisi juga dengan kewaspadaan. Waspada terhadap bom bunuh diri atau BBD.

Sama halnya dengan Idul Fitri 2016, tahun ini. BBD di Solo, juga menjadi faktor pemicu. Jelang Malam Takbiran, pagi tadi, seorang Calon Penganten, bergegas menuju tempat bidadarinya menanti; ia meledakan dirinya, agar sampai ke pelukan bidadari.

Ia yang ke Sorga, namun dampaknya adalah sejumlah besar Mesjid di Nusantara mendapat pejagaan keamanan yang berlapis. Organ-organ pemuda Gereja, Mesjid, Ormas Keagamaan, Polri, TNI, berjaga dan siaga, jelang Malam Takbiran dan Idul Fitri.

Ya, keamanan Idul Fitri 1437 H, mungkin lebih ditingkatkan, karena ada kasus BBD di Solo. Dan, itu sah-sah saja, agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, katakanlah, ledakan dasyat.

Lalu, kembali ke awal, kita, anda dan saya, memasuki dan merayakan Idul Fitri 1437 H dengan damai karena di sisi sana ada aparat yang siaga supaya aman. Jika tidak, maka ada keraguan dan kekuatiran; kuatir terjadi hal-hal yang tak terduga, misalnya kekerasan yang parah berdarah.

Kini, di Nusantara yang ramah, setiap berhari raya, terutama Idul Fitri dan Natal, selalu berwarna dengan penjagaan keamanan yang berlapis. Umat “hanya bisa” beribadah dan merayakan dengan aman serta damai jika ada “pagar” senjata dan mesiu yang melindungi mereka.

Ya, sejenak ku terpana dan bertanya pada diri sendiri, “Sampai kapan, negeri ini berhari raya dalam lindungan senjata dan mesiu!?”

Ya, sampai kapan berhari raya tanpa takut gangguan, bom, ledakan, dan sejenis dengan itu.

Entahlah ……..!
Agaknya, sudah menjadi nasib, Nusantara berhari raya sambil siaga perang.

Mari, kita menyatu hati sambil menaikan doa serta permohonan agar Nusantara kembali menjadi ramah, cerah, ceria, aman, damai, penuh kasih dan cinta kepada sesama tanpa memandang perbedaan SARA.

Akhir kata

Segenap Jajaran Jakarta News Co

Mengucapkan
Selamat
Merayakan
Idul Fitri 1437 H

Mohon Maaf Lahir Batin

 

Opa Jappy
Penanggung Jawab Jakarta News
Pimpinan Lembaga Edukasi dan Advokasi Publik Indonesia Hari Ini
Juru Bicara Relawan Cinta Ahok

678 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa