Sanggar Membaca dan Menulis Opa Jappy

Commuter Line Jakarta Bogor–Tidak nampak, tak ada apa-apa, kosong, dan sama sekali tanpa apa pun; itu adalah sesuatu yang tak mungkin di alam raya. Karena tak ditemukan sesuatu yang yang tak ada; semuanya ada sehingga disebut terlihat, ada, dan eksis.

Sesuatu yang tak ada itu, sebetulnya tiada; atau tak ada satu pun yang tiada di bawah Matahari. Jika disebut tak ada, maka itu sebetulnya untuk menunjukan sesuatu yang seharusnya ada di antara yang lain pada lokasi terentu; sehingga jika/ketika dicari dan tiada, maka disebut tidak ada, padahal ada yang lain di tempat itu.

Jadi, sebetulnya, pada/di/dalam suatu tempat, lokasi, wadah (abstrak dan kongkrit) tak pernah kosong, tak ada, tiada, hampa, dan nihil; ia selalu ada, dan tetap ada sesuatu di dalamnya.

Menulis
Sama halnya dengan idea, gagasan, opini, pendapat, pokok-pokok pikiran, selalu ada di/dalam/pada hati, pikiran, diri, tubuh, roh, dan jiwa; rapi tersimpan dengan manis. Ia akan tetap di situ, jika tak dikeluarkan menjadi kata-kata teratur dalam bentuk tulisan agar terbaca oleh diri sendiri dan orang lain.

Hal-hal di atas, sebetulnya pernah dan sering terjadi pada banyak orang yang suka dan senang (atau pun tidak) menulis; menulis apa saja. Kadang begitu banyak hal yang ada di dalam pikirian, sehingga sulit untuk memilih dan memilah, mana yang akan ditulis atau dirangkai menjadi kata-kata indah berbentuk artikel. Tapi, kadang karena sangat banyak itu, maka tak ada satu pun yang dipilih dan terpilih menjadi tulisan.

Anda pernah alami seperti itu …!? namun akhirnya juga menulis sesuatu!?

Menulis karena berhasil memilih dan memilah idea, gagasan, pokok-pokok pikiran; atau justru menulis hal yang berbeda dengan apa yang dalam pokok pikiran, berbeda dengan idea, gagasan, pokok pikiran yang telah ada sebelumnya!?

Ya. Kadang kita menulis seperti air mengalir; mengalir dari dalam hati; dan bukan karena telah ada di/dalam hati atau sebelumnya telah ada dalam diri. Ya. Kita bisa menulis karena kosong dan tak ada apa-apa dalam pikiran.

Mengapa bisa seperti itu!? Saya pun bertanya, dan mungkin saja tak ada jawaban yang memuaskan.

Mungkin saja, menulis juga merupakan (ada) kerja hormon (btw, adakah hormon untuk menulis!?), sehingga jika hormon tersebut tak bekerja makamalas menulis atau ketika hormon tersebut giat bekerja,rajin menulis alias produktif (!?).

Mungkin ada hormon yang membangkitkan gairah untuk menulis serta membangkitkan mood agar menulis walau kosong dan tak ada apa-apa untuk ditulis.

Bisa jadi seperti itu, sebab walau kosong, tak ada idea, dan lain sebagainya, namun ketika saat menulis maka semuanya bisa mengalir dan terus mengalir dari huruf awal hingga titik akhir.

Dan jika semuanya mengalir apa adanya, maka yang terjadi adalah suatu proses pengosongan; ketika menulis terjadi proses pengosongan hati (hati sang penulis). Sehingga, ketika selesai menulis, terjadi kelegaan dan keluasan hati, pikiran, dan sikon hati, tubuh, roh, dan jiwa.

Atau, ini yang luar biasa, menulis hampir sama dengan mood ML. !? Dengan demikian (setelah) menulis pun otot-otot badan menjadi renggang, suasana hati jadi tenang, kurangi beban stres, ada perasaan nyaman pada diri sendiri karena uneg-uneghati telah keluar.

Mari, menulis, agar hati mu tak kosong dan tanpa apa-apa.

Seorang penulis di masa lalu, menyatakan bahwa menulis, kini tepatnya mengetik, adalah seni mengungkapkan pikiran atau apa yang dipikirkan melalui tulisan. Sama halnya dengan berhomoli/a, berfilsafat, berfilosofi, yang pada dasarnya adalah seni mengungkapkan pikiran melalui kata-kata.

Oleh sebab itu, para filosof pada masa lalu, menghasilkan kata-kata bermakna, dan mewariskan tulisan-tulisan atau buku. Dengan demikian, generasi berikut dapat menerima dan diwarisi ilmu serta hikmat yang ada pada mereka.

Menulis, merupakan upaya mengungkapkan ulang (dari dalam arsip pikiran) tentang apa yang pernah dibaca dan terbaca, serta tersimpan dalam pikiran. Juga merupakan hal paling mendasar pada seseorang ketika ia mulai belajar; dan itu secara standar – normal gunakan alat tulis.

Pada perkembangan kemudian, tulis – menulis, walau masih gunakan anggota tubuh (terutama jari-jari tangan), alat yang dipakai untuk itu sudah semakin aneka ragam, misalnya mesin ketik, keypad, keyboard, dan seterusnya.

Pada umumnya seseorang bisa dan biasa menulis karena “ada bakat” dan mau belajar; dalam arti belajar agar bisa menulis. Jika sudah mencapai tahap tertentu, seorang penulis (misalnya fiksi, akademik, berita) akan bisa melihat dan menilai hasil tulisannya serta pesan yang tekandung di dalamnya.

Selain itu, ia akan menulis, di dalam tulisan-tulisannya, dengan pakem “Seni Menulis,” bukan menulis tentang seni. Dalam arti, di dalam tulisan terkandung nilai seni atau art, berupa keindahan kata dan kalimat, serta pesan-pesan moral yang langsung terbaca atau pun tersirat.

Baca dan Membaca

Seseorang yang bisa baca – membaca, maka ia pun bisa serta biasa tulis – menulis (adakah orang yang bisa membaca namun tak bisa menulis;!? Tentu saja bisa jika ia tak punya jari untuk menulis, toh masih ada anggota tubuh yang bisa ia gunakan).

Baca dan membaca merupakan kegiatan mata, pikiran, otak yang sangat cepat; mata menangkap huruf, kata, kalimat, gambar, dan lain-lai yang ada dihadapannya atau terlihat; otak mengolahnya, dan selanjutnya berproses dengan sangat cepat; sehingga ada – muncul dari dalam diri: makna, pahami, tahu, dan seterusnya.

Baca – membaca, merupakan langkah paling mendasar pada seseorang agar mendapat input baru untuk/pada dirinya (sangat banyak hal, termasuk ilmu pengetahuan).

Cukup lah

Mari, Membaca dan Menulis Bersama Opa Jappy

Opa Jappy | +62818121642
Jakarta News 41 002 13

Baca

Baca

Baca

Baca

Baca

Baca

41,288 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Share Button

REDAKSI

Suarakan Kebebasan