Saya Tak Menyebutmu Kafir | Ini Alasannya

Kafir bermakna penyembah berhala, orang biadab; yang tidak bertuhan; yang tak beradab.

Mengkafirkan bermakna menganggap, memandang kafir; menjadikan kafir; kekafiran atau perihal atau yang bersifat atau berciri kafir.

Penggunaan dalam/pada Agama Islam, Kafir adalah orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya; kafir harbi orang kafir yang mengganggu dan mengacau keselamatan Islam sehingga wajib diperangi; kafir muahid orang kafir yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam bahwa mereka tidak akan menyerang atau bermusuhan dengan umat Islam selama perjanjian berlaku; kafir zimi orang kafir yang tunduk kepada pemerintahan Islam dengan kewajiban membayar pajak bagi yang mampu.

Pada konteks itu, maka mudah dipahami bahwa, banyak orang Indonesia yang suka serta gampang mengkafirkan sesamanya; ataupun dengan mudah menuduh serta mencap orang lain sebagai kafir.

Pertanyaan berikut, yang sering muncul (termasuk kepadaku) adalah, ” … ko’ jarang, atau hampir tak terdengar seorang Kristen – Nasrani – Katolik, menyebut atau mencap, menuduh orang lain sebagai kafir!?”

Jawabnya sederhana, yaitu memang tak boleh karena Yesus melarang hal tersebut.

Ia mengatakan bahwa, “Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, … .”

Pada masa itu, masa Yesus, ketika ia masih ada di Dunia, menuduh – mencap seseorang Kafir, disamakan dengan menjadikan – menuduh orang tersebut tak bertuhan, tak mengenal TUHAN, tidak percaya ke/pada Allah, bahkan orang yang tak beradab; dan itu merupakan suatu penistaan serta penghinaan terhadap kemanusiaanya.

Dalam konteks itu, menuduh – mencap kafir, maka akan berdampak pada dimensi keagamaan – iman seseorang; serta dimensi hukum atau sebagai pelanggaran hukum.

Oleh sebab itu, sang pencap – penuduh tersebut wajib diperhadapkan ke hadapan Mahkamah Agama dan Sipil.

Nah … larangan tersebut di atas itulah, yang ada dan tertanam dalam pemikiran sosiologis dan spiritual umat Kristen dan Katolik, sehingga mereka tak pernah ataupun mudah menuduh orang lain atau sesamanya sebagai Si Kafir, Orang Kafir, dan sejenisnya.

Semarang, 26 Agustus 1980

OPA JAPPY | JAKARTA NEWS

7,824 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa