Sejarah Hari Ibu | Ketika Tuhan Menciptakan Ibu

Share Button
Ayah dan Ibu

Srengseng Sawah. Jakarta Selatan–Ketika itu, 22 Desember 1928, di Pendopo Dalem Jayadipuran milik Raden Tumenggung Joyodipoero, Yogyakarta, ada perhelatan akhbar Kaum Perempuan Nusantara. Pertemuan Besar yang disebut Kongres Perempuan Indonesia. Pada waktu itu, sekitar 600 perempuan dari berbagai latar etnis, suku, pendidikan, usia, dan srata sosial berkumpul, dengan semangat kebangsaan, Kebangkitan Nasional (ingat, pada Oktober 1928, para Pemuda berhasil deklarasikan Sumpah Pemuda di Jakarta) Kaum Perempuan Indonesia. Dan dengan itu, tak dapat disangkal bahwa Sumpah Pemuda pada Oktober 1928, juga mewarnai dan memotivasi Kaum Perempuan Idonesia untuk ikut memelibatkan diri dalam memeredekakan dan membangun bangsa sesuai sikon serta konteks masing-masing

Hadir pada Kongres (para) Perempuan Indonesia tersebut, antara lain wakil-wakil dari Perempuan Boedi Oetomo, PNI, Pemuda Indonesia, PSI, Walfadjri, Jong Java, Jong Madoera, Muhammadiyah, Putri Indonesia, Wanita Katolik, Aisyah, Wanita Mulyo, Sarekat Islam, Darmo Laksmi, Jong Islamten Bond, Wanita Taman Siswa, Perempuan Sunda Ketjil, dan lain sebagainya. Bahkan, hadir juga para tokoh pergerakan, pada waktu itu, antara lain Mr. Singgih, Dr. Soepomo, Mr. Soejoedi (PNI), Soekiman Wirjosandjojo (Sarekat Islam), A.D. Haani (Walfadjri).

Pada saat itu, Kongres Perempuan diwarnai dengan semangat kebangkitan Nasional, kebangsaan, perhatian serta upaya perbaikkan nasib perempuan keterlibatan perempuan pada gerakan-gerakan serta perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Sehingga bahasan dan diskusi pun menyatu pada satu tujuan besar yaitu, “Peran Perempuan di Indonesia yang Merdeka dan Berdaulat,” serta sejajar dengan bangsa-bangsa di dunia. Menariknya, pada masa itu, Desember 1928, para perempuan sudah membahas  hal-hal krusial yang hingga kini masih belum terselesaikan atau menjadi permasalahan Kaum Perempuan. Misalnya,

  • relasi mengenai perempuan
  • tentang perkawinan anak atau di bawah umur
  • derajat dan harga diri perempuan
  • adab perempuan
  • dipandang rendah karena menjadi seorang perempuan karens hanya anak laki-laki yang menjadi prioritas dalam mengakses pendidikan, karena perempuan, dianggap tak jauh dari urusan kasur, sumur, dan dapur.

Di atas, hanyalah ‘sepotong rekaman sejarah;’ penggalan dari sejarah dan ungkapan tragedi perempuan Indonesia pada masa lampau. Fakta membuktikan bahwa perjuangan Kaum Perempuan sejak masa R A Kartini hingga Kongres Perempuan di Yogyakarta, sampai pada Era Kekinian, belum mencapai harapan maksimal; artinya sikon sosio-kultural-politik para Perempuan Indonesia belum banyak banyak berubah dan nampak kesetaraan jender. Apresiasi Negara terhadap Perjuangan Kaum Perempuan, boleh disebut terlambat. Nantinya pada 22 Desember 1953, saat peringatan kongres ke-25, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden RI No.316 Tahun 1953, yang menetapkan Tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Hari Ibu di Sikon Kekinian alias Zaman Now

Berikut ini beberapa pendapat tentang Hari Ibu, yang sempat dihubungi melalui WA.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise, “Peringatan Hari Ibu di Indonesia dilakukan untuk mengenang perjuangan kaum perempuan Indonesia.  Peringatan tersebut ditujukan untuk mengenang kaum perempuan yang telah berjuang bersama laki-laki dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Hari Ibu di Indonesia dilandasi oleh tekad dan perjuangan kaum perempuan untuk mewujudkan kemerdekaan dilandasi oleh cita-cita dan semangat persatuan kesatuan menuju kemerdekaan Indonesia yang aman, tenteram, damai, adil, dan makmur.”

Todora Radisic, “Ibu adalah Super Mama. Ya, Super Mama, karena ia mengerjakan sangat banyak  hal yang tak bisa dilakukan oleh laki-laki.”

Ade Ferdijana, “Perjuangan seorang Ibu dalam membesarkan anak penuh kasih tanpa berharap kembali.”

Ratna Trikorawati, Ku rindu dia, Ku cinta dia, Ku bahagia brsama dia, Ku puas merawat dia, Ku jantan mencium kaki dia.”

Vivien Maryam, “Bangga dan bersyukur terlahir menjadi perempuan dan menjadi seorang ibu.”

Juliet Ningsih, “Seorang Ibu bisa menggantikan siapapun tetapi siapapun tidak bisa menggantikan seorang ibu. Seorang ibu adalah Tiang Doa bagi keluarga, terutama buat anak-anaknya.”

Adeline Adele, “Menghargai jerih payah ibu yang sudah merawat keluarga. Zaman Now, Ibu dibutuhkan negara untuk menjaga NKRI, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan memperjuangkan kelangsungan pemerintah.”

RH Hudoyo, “Selamat Hari Ibu. Ia adalah mama untuk semua, teman karib untuk semua, dan tak tergantikan oleh apa da siapa pun.”

Jelly E Basharie, “Ibu adalah Pahlawanku.”

Silent and Action Operation Sang Ibu

Ya. Ibu adalah Ibu, mama adalah mama, mami adalah mami, mother just mother, hanya itu dan tak lebih. Namun, yang tak lebih itu lah, yang membuat anak-anak berkelebihan; bahkan ketika anak-anaknya, dalam kekurangan pun, mereka masih bisa berseru saring, “Ibu telah membuat dan memberiku lebih daripada dipikirkan serta dilihat orang lain.”

Ya. Ibu telah melakukan silent and action operation yang tak terduga oleh anak-anaknya, dan itu ia awali dan akhiri dengan tanpa kata serta suara. Ia bangun sebelum fajar, menyediakan makanan ketika anak-anakanya masih pulas, menyiapkan seragam karena tak mau anak-anaknya terlambat tiba sekolah; menyediakan dan menyiapkan segalanya untuk semua dalam diam serta kesunyian.

Kini kuhanya bisa berkata, “Selamat Hari Ibu”

Opa Jappy

Berciuman

Ketika Tuhan Menciptakan Ibu

Ketika itu, Tuhan telah bekerja selama enam hari lamanya, kini giliran menciptakan ibu.

Malaikat menghampiri Tuhan dan berkata lembut, “Tuhan, banyak nian waktu yang Tuhan habiskan untuk menciptakan ibu ini?:

Tuhan menjawab pelan, “Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan?”

Ibu ini harus tahan air/cuci tapi bukan dari plastik
Ia harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat aus
ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan yang seadanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya
ia memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya
ia memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukan hati anaknya
ia memiliki lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah,
dan enam pasang tangann!

Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “enam pasang tangan…?! tsk, tsk, tsk;

Tuhan menjawab, “Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan, melainkan, tangan yang melayani sana-sini dan mengatur segalanya menjadi lebih baik.”

“Ibu ini seharusnya memiliki tiga pasang mata.”

Malaikat semakin heran dan berkata, “Bagaimana modelnya?!”

Tuhan mengangguk-angguk; dan berkata,

“Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya, apa yang sedang kau lakukan di dalam situ, padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya.”

“Sepasang mata yang diletakan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh, artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat.

Sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya.

Mata itu harus bica bicara!

Mata itu harus berkata, ‘Saya mengerti dan saya sayang padamu.’ Meskipun tidak diucapkan sepatah katapun.”

Kata Malaikat lagi, “Tuhan, istirahatlah.”

Malaikat membalik-balikkan contoh ibu dengan perlahan, dan berkomentar, “Terlalu lunak.”

Kata Tuhan, “Tapi kuat. Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung, pikul, dan derita?!”

Malaikat bertanya, “Apakah ia dapat berpikir?”

Kata Sang Pencipta, “Ia bukan hanya dapat berpikir, tapi juga dapat memberi gagasan, idea dan kompromi.”

Akhirnya, Malaikat menyentuh sesuatu di pipi ibu yang tercipta, dan berkata, “Eh, ada kebocoran di sini!”

Tuhan pun berkata,

“Itu bukan kebocoran”
“Itu adalah air mata”
“air mata kesenangan”
“air mata ketekunan”
“air mata kesedihan”
“air mata kekecewaan”
“air mata kesakitan”
“air mata kesepian”
“air mata kebanggaan”
“air mata kesabaran”
“air mata”
“air mata…… ”

OPA JAPPY | JAKARTA NEWS

100 00 05 95

Share Button

REDAKSI

Suarakan Kebebasan