Soekarno Putera Fajar

JAKARTA/JNC – IBU telah memberikan pangestu kepadaku ketika aku baru berumur beberapa tahun. Di pagi itu ia sudah bangun sebelum matahari terbit dan duduk di dalam gelap di beranda rumah kami yang kecil, tiada bergerak.

Ia tidak berbuat apa‐apa, ia tidak berkata apa‐apa, hanya memandang arah ke Timur dan dengan sabar menantikan hari akan siang. Akupun bangun dan mendekatinya.

Diulurkannya kedua belah tangannya dan meraih badanku yang kecil ke dalam pelukannya. Sambil mendekapkan tubuhku ke dadanya, ia memelukku dengan tenang.

Kemudian ia berbicara dengan suara lunak, “Engkau sedang memandangi fajar, nak.” Ibu katakan kepadamu, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing.

Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali‐kali kaulupakan, nak!, bahwa engkau ini putera dari sang fajar.

“Bersamaan dengan kelahiranku menyingsinglah fajar dari suatu hari yang baru dan menyingsing pulalah fajar dari satu abad yang baru. Karena aku dilahirkan di tahun 1901.

Bagi Bangsa Indonesia abad kesembilanbelas merupakan jaman yang gelap. Sedangkan jaman sekarang baginya adalah jaman yang terang benderang dalam menaiknya pasang revolusi kemanusiaan.

Abad ini adalah suatu jaman dimana bangsa‐bangsa baru dan merdeka di benua Asia dan Afrika mulai berkembang dan berkembangnya negara‐negara Sosialis yang meliputi seribu juta manusia.

Abad inipun dinamakan Abad Atom. Dan Abad Ruang Angkasa. Dan mereka yang dilahirkan dalam Abad Revolusi Kemanusiaan ini terikat oleh suatu kewajiban untuk menjalankan tugas‐tugas kepahlawanan.

Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal enam, bulan enam. Adalah menjadi nasibku yang paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran. Dan memang itulah aku sesungguhnya.

Dua sifat yang berlawanan. Aku bisa lunak dan aku bisa cerewet. Aku bisa keras laksana baja dan aku bisa lembut berirama.

Pembawaanku adalah paduan daripada pikiran sehat dan getaran perasaan. Aku seorang yang suka mema’afkan, akan tetapi akupun seorang yang keras‐kepala. Aku menjebloskan musuh‐musuh Negara ke belakang jeruji besi, namun demikian aku tidak sampai hati membiarkan burung terkurung di dalam sangkar.

Pada suatu kali di Sumatra aku diberi seekor monyet. Binatang itu diikat dengan rantai. Aku tidak dapat membiarkannya! Dia kulepaskan ke dalam hutan.

Ketika Irian Barat kembali kepangkuan kami, aku diberi hadiah seekor kanguru. Binatang itu dikurung. Kuminta supaya dia dibawa kembali ke tempatnya dan dikembalikan kemerdekaannya. Aku menjatuhkan hukuman mati, namun aku tak pernah mengangkat tangan untuk memukul mati seekor nyamuk. Sebaliknya aku berbisik kepada binatang itu, “Hayo, nyamuk, pergilah, jangan kau gigit aku.”

Sebagai Panglima Tertinggi aku mengeluarkan perintah untuk membunuh. Karena aku terdiri dari dua belahan, aku dapat memperlihatkan segala rupa, aku dapat mengerti segala pihak, aku memimpin semua orang.

Boleh jadi ini secara kebetulan bersamaan. Boleh jadi juga pertanda lain. Akan tetapi kedua belahan dari watakku itu menjadikan aku seseorang yang merangkul semuanya.

Masih ada pertanda lain ketika aku dilahirkan. Gunung Kelud, yang tidak jauh letaknya dari tempat kami, meletus. Orang yang percaya kepada tahayul meramalkan, “Ini adalah penyambutan terhadap bayi Sukarno.”

Sebaliknya orang Bali mempunyai kepertcayaan lain; kalau gunung Agung meletus ini berarti bahwa rakyat telah melakukan maksiat. Jadi, orangpun dapat mengatakan bahwa gunung Kelud sebenarnya tidak menyambut bayi Sukarno. Gunung Kelud malah menyatakan kemarahannya, karena anak yang begitu jahat lahir ke muka bumi ini.

Berlainan dengan pertanda‐pertanda yang mengiringi kelahiranku itu, maka kelahiran itu sendiri sangatlah menyedihkan. Bapak tidak mampu memanggil dukun untuk menolong anak yang akan lahir. Keadaan kami terlalu ketiadaan.

Satu‐satunya orang yang menghadapi ibu ialah seorang kawan dari keluarga kami, seorang kakek yang sudah terlalu amat tua.

Dialah, dan tak ada orang lain selain dari orang tua itu, yang menyambutku menginjak dunia ini. Di Bogor ada sebuah plaket timbul yang terbuat dari batu pualam putih lagi bersih, yang melukiskan kelahiran Hercules. Ia tergantung di ruang gang yang menuju keruangan resepsi Negara. Plaket ini memperlihatkan bayi Hercules dalam pangkuan ibunya dikelilingi oleh empatbelas orang wanita‐wanita cantik, semua dalam keadaan telanjang.

Cobalah bayangkan, betapa bahagianya untuk dilahirkan di tengah‐tengah empatbelas orang wanita cantik seperti ini!, Akan tetapi Sukarno tidak sama beruntungnya dengan Hercules. Pada waktu aku dilahirkan, tak seorangpun yang akan mengambilku ke dalam pangkuannya, kecuali seorang kakek yang sudah terlalu amat tua.

Lalu 50 tahun kemudian. Ini bukanlah lelucon sebagai bahan tertawaan. Di tahun 1949 Republik kami yang masih muda menginjak tahun keempat dari revolusi kami melawan Belanda. Suatu perjuangan yang hebat dengan menggunakan berbagai muslihat. Pihak sana di Negeri Belanda benci kepadaku habis-habisan seperti mereka habis‐habisan membenci neraka. Mereka menentangku melalui radio. Dan mereka menentangku melalui pers. Sebuah majalah membuat suatu pengakuan dengan menyatakan bahwa, “Sukarno adalah seorang yang bersemangat, dinamis dan berlainan sama sekali dengan orang Jawa yang lamban dan lambat berpikir. Sukarno dapat berbicara dalam tujuh bahasa dengan lancar. Kita hendaknya bisa melihat kenyataan dan kenyataan adalah, bahwa Sukarno sesungguhnya seorang pemimpin.”

[Saduran bebas dari BUNG KARNO: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Biography As Told To Cindy Adams, Edisi E-Book Koleksi Jappy Pellokila, Hal 16-17]

595 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa