Terima Kasih Ahok

Share Button

 

 

AHOK

Seputaran Mako Brimob, Depok–Ahok. Magnit Politik (baru) di Indonesia,; durasi magnitnnya  membuat ia dikenal,dan juga tak disukai. Figur Ahok sebagai magnit politik hanya mampu ditandingi oleh Presiden Jokowi. Apalagi program-program yang dilancarkan, sejak ia mendampingi Jokowi sebagai wakil Gubernur, lalu menggantikannya, membuat banyak orang berdecak kagum. Jakarta mengalami perubahan fisik sangat pesat di bawah pemerintahan Ahok, sementara birokrasinya makin efisien dan responsif melayani kebutuhan warga.

Lalu mengapa Ahok harus kalah? Dan mengapa pula – ini bagian paling mengherankan bagi pengamat – perolehan suaranya tidak jauh beda dengan hasil putaran pertama, padahal dalam hari-hari terakhir sebelum tanggal 19 April 2017, kecenderungan elektabilitas Ahok meningkat terus? Apa yang sesungguhnya terjadi?

Ada banyak analisa sudah diberikan. Salah satunya mengaitkan kekalahan Ahok dengan pertarungan global yang dampaknya ikut bergema di dalam negeri. Di situ, Ahok adalah “sasaran antara” untuk pertarungan lebih besar memperebutkan kursi RI-1, semacam “pemanasan” untuk pemilihan Presiden 2019.

Memang, tanda-tanda pertarungan yang lebih besar tersebut sangat terasa. Pilgub DKI yang baru saja berlalu adalah pilgub dengan “aroma pilpres” paling kuat. Maksudnya, kekisruhan politik di Jakarta telah bergema, dan dapat dirasakan di banyak daerah di luar Jakarta. Termasuk mobilisasi massa, mulai dari aksi-aksi demo 411, 212, 112, sampai “Tamasya Al-Maidah”.

Tidak heran, jika PILKADA DKI Jakarta, dinilai ajang pertarungan politik yang paling brutal yang pernah terjadi. Selama lebih kurang setengah tahun, masyarakat Jakarta khususnya, dan para penonton di luar Jakarta, disuguhi pertarungan sengit bak hidup-mati. Apalagi ketika politisasi SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan) dipakai secara terstruktur, sistematis dan massif untuk menghantam figur Ahok. Hasilnya ternyata efektif.  Rasis dan Intoleran juga ada di masyarakat Jakarta yang, konon, sudah hidup di dalam kota modern dan berpenghasilan serta berpendidikan lebih tinggi dibanding daerah-daerah lain. Dan itu dipakai sebagai alat politik kotor serta tak bermartabat

Hasil exit polls yang dilakukan SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting) saat pencoblosan tanggal 19 April 2017 adalah

Alasan paling besar memilih pasangan Anies-Sandi adalah

  1. Agamanya sama dengan Saya, 25,9%
  2. Paling memperjuangkan agama, 17%.

Alasan memilih Ahok-Djarot

  1. Program yang dijalankan atau dijanjikan paling meyakinkan,30,5%
  2. Bersih dari korupsi, konsisten, amanah, atau bisa dipercaya, 21,6%.

Jika data tersebut mencerminkan apa yang benar-benar bergejolak dalam masyarakat, maka jelas ada problem sangat fundamental yang harus menjadi perhatian kita semua. Sebab demokrasi yang stabil dan terus berkembang menghendaki penghargaan lebih pada program, konsistensi kerja, dan prestasi seseorang – bukan latar belakang etnis atau keyakinan agamanya!

Pada  konteks itulah, kita harus mengucapkan terima kasih pada Ahok. Ia merupakan contoh par excellence sistem meritokrasi – penghargaan pada kerja dan prestasi – yang sangat dibutuhkan oleh proses transisi demokratisasi negara ini. Dan Ahok telah memberi teladan dengan standar tinggi, malah kadang terlalu tinggi, pada pengabdian seorang “pelayan masyarakat”.

Kemarin masyarakat Jakarta sudah memilih. Dan, ironisnya, mereka menolak pelayanan Ahok, hanya karena ia berbeda keyakinan dari mayoritas. Suatu keputusan yang, walau disayangkan banyak orang, tetap harus dihargai.

Lebih dari semuanya itu, kita juga berterima kasih kepada Ahok (dan juga Djarot), karena ‘gara-gara; mereka, maka terbukalah topeng kepalsuang yang selama ini tak terlihat. Topeng Abstrak yang selama ini ada pada wajah Pejabat Negra, Menteri, Mantan Jenderal, Politisi, Penguasa, Pengusaha, PNS, Dosen, hingga rakyat jelata, dan lain sebagainya.; termasuk Ormas (Islam) Rasis. Selama ini,mereka gunakan topeng,sehingga terlihat Nasionalis, Toleran, bersahabat, dan juga penuh kesetaraan dan kebersamaan dalam banyak hal. Ternyata, hanya karena Basuki Tj Purnama, yang Kristen dan Etnis China, satu orang Ahok, semuanya melepaskan topeng mereka. Bayangkanlah,jika ada dua Ahok.

Terima Kasih Ahok,karena engkau berhasil membuat mereka membuka topeng. Dan,kini Rakyat Nusantara jadi dan semakin tahu siapa-siapa mereka.

 

 

OPA JAPPY | SATU HARAPAN

# 15 45 00 85

Share Button

Related Post

Related posts:

REDAKSI

Suarakan Kebebasan