Teroris Dunia Maya Tak Berdaya Di Hadapan Polisi

Dua orang Teroris Dunia Maya tak berdaya di hadapan polisi.

Pertama, Hardian, Admin Fans Page Muslim Cyber. Isla mengunggah screenshoot percakapan palsu atau hoax buatan sendiri, antara Kabid Humas Polda Metro Jaya dengan Kapolri yang membicarakan kasus Rizieq Shihab dan Firza Husein.

Hardian mendistribusikan fake chat antara Kapolri dengan Kabid Humas PMJ tentang kasus Rizieq Shihab dan Firza Husein; dan juga memposting (capture) yang mengandung unsur SARA melalui media sosial akun Instagram muslim_cyber1

Selasa (23/5) Dit Tindak Pidana Siber menangkap Hardian Pradana, 22, di rumahnya Jl Damai No 90 RT 09 RW 04 Kel Cipedak Kec Jagakarsa Jakarta Selatan.

Ia dijerat pasal 45A ayat (2) jo pasal 28 ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dan/atau pasal 16 jo pasal 4 huruf (b) angka (1) UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan atau Pasal 156 KUHP dan/atau Pasal 157 ayat (1) KUHP dan/atau pasal 207 dan pasal 208 KUHP.

Kedua, Rifai; yang pada facebooknya, ia menuduh Polri telah merekayasa pemboman di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, yang terjadi Rabu (24/5) sebagai rekayasa bom bunuh diri.

Dan menurutnya, sebentar lagi framing pemberitaan media akan mengarah pada satu topik bahwa pelakunya Islam radikal. Jika pengeboman itu bukan rekayasa maka korban meninggal akan sangat banyak dan diledakkan di lokasi yang ramai. Yang asli akan memposting pesan ancaman yang ditujukan pada pihak tertentu sebelum melakukan aksinya melalui video. Jika berhasil, pasti akan mengaku sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Pria kelahiran Rao, 19 Agustus 1980 itu ditangkap Bareskrim Polri di rumahnya di Jl Sutan Syahrir No 36, RT006/000, Silaing Bawah, Padang Panjang Barat, Sumatra Barat, pada Minggu (28/5) sore.

Rifai ditangkap karena menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu serta kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, ras, dan antar golongan (SARA).

Rasain loe

Di hadapan penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Ahmad Rifai Pasra, 37, hanya bisa menjawab pertanyaan dengan tertunduk lesu. Sama sekali tak nampak kegarangan dan sok jagonya sebagaimana di Dumay. Gang jihad cyber army ini ternyata nol dan tak berdaya di hadapan aparat.

Kepada penyidik yang memeriksanya Rifai menyatakan bahwa,

“Saya menyesal telah mengunggah berita bohong yang menyebutkan pemboman di Kampung Melayu adalah rekayasa polisi.

Saya menulis akun facebook di rumahnya. Dan tidak menyangka jika tulisan itu menjadi viral di dunia maya. Saya juga tidak tahu kalau ternyata Kampung Melayu itu adalah kawasan yang ramai.”

Hardian dan Ahmad Rifai Pasra adalah Teroris Dunia Maya.

Apa dan siapa Teroris Dunia Maya.

Teroris, secara sederhana adalah orang yang melakukan teror. Mereka, bisa datang atau dibentuk dari semua strata sosial dan tingkat pendidikan; serta berbagai alasan. Alasan atau motivasi seseorang menjadi teroris, walau dirinya tak mengakui sebagai teroris, sangat beragam; misalnya alasan idiologis, agama, balas dendam, bahkan kelainan jiwa.

Karena alasan-alasan itulah, maka gerakan atau aksi-aksi mereka, para teroris itu, pun beragam, seiring dengan tingkat dan latar pendidikan serta strata sosialnya. Misalnya, seseorang yang wawasan sosialnya sempit, kurang pendidikan, minim interaksi sosial, yang direkrut menjadi pelaku teror, maka bisa dipastikan, ia akan menjadi eksekutor bom bunuh diri. Namun, jika merekrut seseorang yang pendidikan lumayan, menguasai atau mempunyai pengetahuan lintas ilmu, maka ia bisa dibentuk sebagai operator atau pelaku teror di “belakang layar” dan Dunia Maya.

Mereka, operator atau pelaku teror di “belakang layar” dan Dunia Maya, inilah yang saya sebut sebagai Teroris Dunia Maya atau Dumay.

OPA JAPPY | JAKARTA NEWS

75,971 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa