Ti’i Langga, Topi Khas Orang Rote

Share Button

 

Lintasan Sejarah Rote

Nusa(k) atau Pulau Rote, sudah berpenghuni, jauh sebelum Abad Masehi, ditandai dengan adanya dan tanda-tanda atau sisa hidup dan kehidupan Zaman Batu; orang-orang kuno itu dari Micronesia, Papua, Flores, dan Seram. Bahkan, menurut tuturan, yang terpelihara hingga kini, turunan merek lah yang kemudian berinteraksi dengan para ‘pendatang modern’ atau yang belakangan datang yaitu Orang-orang Yahudi dari Suku Gad dan Benyamin (sekitar tahun 700 dan 500 Seb Masehi dan 70-80 Masehi).

Sejarah mencatat bahwa pada tahun-tahun itu, Kerajaan Israel dan Yehuda, mengalami penghancuran dan orang-orang Yahudi ditawan serta dibuang atau disebar ke berbagai penjuru dunia. Dan pada tahun 70, ketika penghancuran Yerusalem oleh Titus dari Roma(wi), menjadikan bangsa Yahudi semakin menjauh dari Timur Tengah. Tidak menutup kemungkinan, jika mereka sampai ke Rote, Oikos (daerah yang berpenghuni) yang terjauh pada masa itu, sebelum bangsa-bangsa Eropa menemukan Amerika dan Australia.

Mernurut catatan pada Land Taal & Volkenkunde Van Netherlands Indie(1854), pada pada Abad 3 (sumber lain menyatakan abad 1) muncul kapal-kapal layar besar di pantai Rote, para pelaut membutuhkan air minum. Di pantai mereka bertemu seorang nelayan dan bertanya, “Pulau ini bentuknya bagaimana?” Nelayan ini menyangka bahwa mereka menanyakan namanya, sehingga ia menjawab, “Rote” (Rote is Mijn Naam).

Orang dari Kapal mengira pulau itu Rote, segera ia menamakan pulau itu Rote. Demikian seterusnya pulau ini disebut Rote. Pada arsip pemerintah Hindia Belanda, Rote ditulis ‘Rotti atau Rottij.’ Orang Rote menyebut Nusak mereka adalah ‘Lote’, khusus bagi mereka yang tidak bisa menyebut huruf  ‘R.’

Padahal sebutan yang sebenarnya adalah ‘Lolo Neo Do Tenu hatu’ atau pun ‘Nes Do Male’ dan juga ‘Lino Do Nes,’ (pulau yang sunyi dan terlupakan karena tidak berpenghuni, suatu ungkapan sarkasmeterhadap Negara yang melupakan Rote dan Orang Rote).

Menurut catatan Negarakertagama, 1365, Timor dan pulau-pulau sekitar terkenal dengan hasil cendananya merupakan wilayah Majapahit, namum mempunyai raja-raja yang otonom dan mandiri. Ini juga berarti bahwa Timor dan pulau-pulau sekitarnya tidak pernah menjadi taklukan atau sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Majapahit. 

Ketika tahun 1510, Goa-India dikuasai Portogis, mereka melanjutkan eskpansinya dengan cara menguasai Malaka 1511. Malaka dijadikan pusat perdagangan serta penguasaan wilayah Nusantara. Portogis berhasil mencapai Maluku, Solor (Flores). Tahun 1511 armada Ferdinand Magellan (dua kapal) singgah di Alor dan Timor (Kupang). Dalam penyebrangan ke selat Pukuafu, kedua kapal ini tertimpa badai, salah satu kapal karam dan hancur. Salah satu jangkar raksasa kapal ini hingga kini masih ada di pantai Rote. Satu lainnya berhasil lolos dari amukan ombak melanjutkan perjalanan ke Sabu, kemudian ke Tanjung Harapan dan kembali ke Spanyol.

Sebelum kedatangan Belanda, tahun 1700an di Rote, Kerajaan Termanu,  (Masa raja-raja dari Klan Pellokila) yang paling berpengaruh, besar, dan luas di Rote. Kekuasaan Raja Pellokila dari Termanu hampir 2/3 wilayah Pulau Rote. Belanda pun tak sanggup mengusai atau menjajah Rote dan Raja-raja Rote lainnya.

Pada tahun 1800an, era Kolonial, karena Raja-raja Rote tak mau takluk kepada Belanda, maka Pemerintah Kolonial menetapkan Satu Raja Rote dan membagi Rote ke dalam 18 Kerajaan kecil, yang diharapkkan bisa mempengaruhi semua raja-raja. Bahkan, dengan politik adu domba, kerajaan-kerajaan di Rote saling perang, dan jika sudah lemah, maka akan ditaklukan. Sayangnya Raja-raja Rote tahu politik Belanda, sehingga justru membangun kekuatan untuk melawan Belanda

Seiring dengan pembentukan Propinsi NTT, lepas dari Prop Sunda Kecil atau Nusa Tenggara, pada tahun 1958, Rote menjadi bagian dari Kabupaten Kupang. Sekian puluh tahun kemudian, pada tanggal 2 Juli 2002 berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2002, Pulau Rote dan pulau sekitarnya dibentuk menjadi Kabupaten Rote Ndao dengan ibukota Ba’a.

Presiden Joko Widodo dan Orang Rote

Ti’i Langga

Topi ini, (lihat image) hanya ada di Pulau Rote (ada dua benda yang khas Rote yaitu Ti’i  Langga dan Sasando. Kedua benda ini wajib diusulkan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia), terbuat dari daun Pohon Lontar (Rote dan Timor  merupakan populasi pohon lontar terbanyak di Dunia).

Untuk membuat Ti’i Langga, pada masa lalu, harus  memilih daun dari pohon lontar  tua dan punya nilai sejarah (misalnya ditanam pada waktu perang, kelahirang anak raja, atau pun peristiwa alam). Daun lontar kemudian dikeringkan, agar kadar air lama, menjadi kering. Semakin lama, daun lontar berubah warna dari kuning mudah menjadi coklat dan ‘antena’ yang tadinya tegak menjadi ‘miring’ dan sulit ditegakkan kembali.

Ti’i Langga pada masa lalu hingga sekarang dibuat atau dianyam sesuai dengan pesanan atau siapa yang memakainya. Sebab, ada perbedaan antara Ti’i Langga untuk para raja, bangsawan dan rakyat biasa.

Ti’i Langga memiliki filosofi dan melekat erat dalam kepribadian orang Rote. Di dalamnya terkandung jiwa kepemimpinan, kewibawaan, percaya diri, menjadi contoh atau teladan Ketika anda (laki-laki) memakai topi tersebut mala akan merasakan nilai-nilai magis yang terkandung pada Ti’i Langga.

Ti’i Langga menggambarkan karakter orang Rote yang tergolong sangat ‘keras’. Mereka,  Orang Rote, mempunyai prinsip hidup yang kuat, ketika mereka katakan salah tidak akan ada kompromi; bila benar, katakan itu benar. Sehingga, sering disebut, kalau otaknya sudah ‘miring’ sangat sulit untuk dikendalikan; sama halnya dengan Ti’i Langga yang sudah miring ‘antenanya.’

Setiap Ti’i Langga ada ‘antena’ dengan 9 bulatan yang berlapis, dari besar hingga kecil. Tak boleh dari 9. Sembilan atau 9 atau Sio, adalah angka sempurna dan satuan yang paling tinggi. Sembilan bulatan itu menunjukkan pada leluhur 9 suku utama di Rote, yang disebut  ‘Lakamola Anan Siok.’ Mereka adalah, 1. Longa Bula, 2. Menge Bula, (1 dan 2 di Rote Timur), 3. Patola Bula, 4. Bula, (di Rote Tengah), 5. Ndu Bula, (di Ba’a),  6. Ben Bula, (di Thie), 7. Kiukai Bula, (di Dengka). 8. Mulifola Bula, (di Dela), 9. Suku yang hilang (diyakini, jika suku ini kembali, maka ada peradaban baru semua nusak atau bahkan kiamat).

 

Opa Jappy

Jakarta News | 001 100 125

Share Button

Related Post

Related posts:

REDAKSI

Suarakan Kebebasan