Vila, Villa, dan Anjelo di Puncak

Entah sejak kapan, dan sudak bukan rahasia, bahwa kehidupan malam di Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor dihubunhkan dengan aktivitas prostitusi. Walaupun sudah tidak ada lagi lokasi prostitusi, para kupu-kupu malam memiliki cara unik untuk memikat pengguna atau pun langganan.

Mereka menyebar di masyarakat atau rumah penduduk, namun setiap saat bisa dipanggil ke vila-vila. Status profesinya itu juga sulit dideteksi oleh warga sekitar tempat mereka ngekos, karena rata-rata mengaku memiliki profesi yang lain.

Bisnis Seks di Puncak, telah menjadi “rahasia yang terbuka.” Jika nyari harus hati-hati dan tdak semua orang tahu tempatnya.

Perhatikan Kode

Tak semua orang paham perbedaan tulisan di papan yang dipegang oleh penyedia jasa penginapan di wilayah Puncak, Kabupaten Bogor.

Biasanya penyedia jasa ada di sisi jalan. Menggunakan stelan baju hangat lengkap dengan kupluk, sambil memegang senter dan papan bertulisan ‘Vila’. Tapi, tak semua tempat penginapan yang dijajakan serupa.

Tulisan yang ada di plang papan yang tersebar di jalur Puncak terdiri dari dua tipe, yakni ‘vila’ dan ‘villa.’

Banyak pengunjung berpikir bahwa perbedaan tulisan tersebut berbeda hanya karena bahasa yang digunakan yakni antara bahasa Indonesia dan Inggris. Namun, di Puncak itu tidak demikian, perbedaan dua penulisan tersebut merupakan kode bagi para calon pelanggan.

‘Vila’ diartikan sebagai penginapan yang ditawarkan kepada pengunjung adalah vila biasa.

‘Vila’ cuma variasi kata, telah menjadi ‘tanda jual,’ pada kalangan penjual dan pembeli kenikmatan. Sehingga, pembeli langsung memesan plus-plus.

‘Vila’ adalah kode terselubung yang disematkan. Kode yang ditujukkan pada wisatawan yang berniat menginap dan menggunakan jasa ‘plus-plus’, yaitu layanan teman wanita.

‘Villa’ dengan dua ‘L’ ternyata mempunyai kode perantara vila yang memiliki fitur ‘plus-plus.’ Abang-abang vila yang di sepanjang jalur Puncak itu rata-rata per orang memegang sepuluh vila.

Penikmat Kenikmatan langsung berhubungan dengan ‘Abang Villa,’ dan akan mengantar (sesuai koleksi foto di galeri hp) ke tujuan, dan dapat tips rata-rata sebesar Rp 200.000.-

Anjelo

Para ‘penghubung’ bisnis seks di Puncak awalnya kebingungan karena tidak punya pekerjaan tetap hingga akhirnya mereka menjadi perantara antara hidung belang dan PSK demi menunjang ekonomi. Mereka sering dengan istilah slengean-nya berpforesi sebagai anjelo (antar jemput lonte/PSK) kepada para hidung belang.

Sempat juga ada warga yang tidak setuju akan kehadiran PSK yang rata-rata berasal dari luar Bogor yang masih dari daerah Jawa Barat. Namun mereka sulit pergi dari Puncak walau pun sudah ditindak. Ditambah para hidung belang yang berdatangan mencari vila, membuat laris bisnis seks di Puncak.

Tarif

Para penikmat kenikmatan di Puncak vila memang berniat menikmati ‘puncak seks di Puncak.’ Apalagi tarif penyedia kenikmatan pun ‘terjangkau,’ bervariasi, dari Rp 300.000.- hingga Rp 800.000.- per dua jam. Dan rata-rata berumur antara 18 sampai 20 tahunan.

Anjelo biasanya merupakan agen 2 sampai 3 orang untuk diantarkan kepada pemesan. Mereka melayani para hidung belang mulai dari pengunjung lokal hingga wisatawan asing.

Namun para tamu Arab, mereka lebih memilih nikah siri ketimbang berhubungan dengan kupu-kupu malam. Dan inilah, kawin semalam yang laris manis di Puncak dan populer.

Villa Kota Bunga bukan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor.

Beberapa hari terakhir muncul broadcast tentang Villa Kota Bunga sebagai Lokasi aman para penikmat Wisata Seks dari Timur Tengah, hal tersebut merupakan informasi yang sangat merugikan VKB Cipanas

Area VKB merupakan kumpulan villa sekitar 3000 villa, di bawah manajemen Sinar Mas Group. Serta secara geografis masuk wilayah Administratif Kabupaten Cianjur.

Para pemilik Villa-villa di VKB, umumnya membiarkan villanya kosong, namun ada juga yang disewakan atau ‘komersil,’ yang kadang tak diketahui pemiliknya.

Umumnya para penyewa tersebut adalah mereka yang beristirahat bersama keluarga, meeting, retreat, tafakur alam, out bond, atau pun family gathering dan lain sebagainya. Dengan demikian pemilik dan manajemen VKB sangat menjaga kenyamanan tamu.

Karena adanya para pemilik Villa-villa di VKB, yang membiarkan villanya kosong tersebutlah, maka muncul kerjasama saling menguntungkan antara para penjaga villa, broker, dan anjelo. ‘Kerjasama’ itulah yang kemudian, memungkinkan adanya villa di VKB yang menjadi tempat nginap ‘tamu-tamu’ semalam. Kemungkinan ini, bisa terjadi di kawasan atau area komplek villa di mana saja; tak hanya di VKB.

Berdasarkan semuanya itu, adalah suatu ‘kebodohan’ dan ‘kengawuran,’ jika menyebut VKA sebagai ‘pusat destinasi wisata seks.’

Oleh Opa Jappy | +62818121642

JAKARTA NEWS | code 75 005 006

76,044 kali dilihat, 9 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa