Warga DKI Ingin Ahok Menjadi Gubernur DKI Jakarta

Basuki Tjahaja Purnama (sumber: Teman Ahok)
Basuki Tjahaja Purnama | Jakartanews.co

JAKARTA/JNC – Hari ini, 21 Juli 2016, Saiful Mujadi Research and Colsunting (SMRC) mempublikasikann hasil survei mereka tentang peluang keunggulaan Basuki Tj Purnama atau Ahok terhadap Bakal Kandidat Gubernur pada Pilkada DKI 2017. Survei yang dilakukan SMRC pada 24-29 Juni 2016, terhadap terhadap 646 responden dengan metode wawancara. Hasil survei tersebut antaral lain,

Warga DKI ingin Basuki Tj menjadi Gubernur DKI : Agustus 2015, 49 % – Juni 2016, 58 %

Warga DKI tidak ingin Basuki Tj Purnama menjadi Gubernur DKI: Agustus 2015, 40 % – Juni 2016, 33 %

Tingkat kepuasan warag terhadap Kinerja Basuki Tj Purnama  69,7 %

Top of mind Publik, dalam arti, sejumlah warga menyebut Ahok, ketika ditanya, “Siapa yang anda pilih sebagai Gubernur DKI pada Pilkada 2017.” Maka jawaban mereka adalah

  1. Ahok 36.6 %
  2. Yusril 2.8 %
  3. Sandiaga  2.1 %
  4. Kandidat Lain < 1 %

Simulasi Ahok dengan 22 bakal kandidat lain, maka ia tetap unggul di atas 50%

  1. Yusril Ihza 10.4 %
  2. Tri Risma 5.7 %
  3. Sandiaga  5.1 %
  4. Yusuf Mansur 4.6 %
  5. Kandidat Lain  <  3 %

Bandingkan dengan survei tanggal 19 Juni 2016. Survei oleh Manilka Research and Consulting; jika head to head antara Ahok jika dihadapkan dengan 10 orang penantang. Maka hasilnya adalah,

  1. Basuki Tjahaja Purnama 49,5% – Tri Rismaharini 34,3%
  2. Basuki Tjahaja Purnama 51,8% – Yusuf Mansur 32,0%
  3. Basuki Tjahaja Purnama 56,5% – Yusril Ihza Mahendra 25,3%
  4. Basuki Tjahaja Purnama 58,3% – Sandiaga Uno 17,0%
  5. Basuki Tjahaja Purnama 58,5% – Adhyaksa Dault 16%
  6. Basuki Tjahaja Purnama 58,3% – Sjafrie Sjamsoeddin 14,0%
  7. Basuki Tjahaja Purnama 58,8% – Djarot Saiful Hidayat 12,5%
  8. Basuki Tjahaja Purnama 56,8% – Ganjar Pranowo 11,8%
  9. Basuki Tjahaja Purnama 59,5% – Moeldoko 11,8%
  10. Basuki Tjahaja Purnama 59,0% – Yoyok Rio Sudibjo 7,0%

Sumber: http://jakartanews.co/head-head-ahok-vs-10-kandidat/

 

Elektabilitas Ahok Tertinggi karena Belum Ada Lawan yang Setara!?

Bisa jadi benar, karena  sampai saat ini beberapa partai politik belum menetapkan nama untuk diusung menjadi calon gubernur; dan juga Ahok adalah incumbent atau  petahana. Oleh sebab itu, bisa jadi elektabilitas Ahok turun jika muncul lawan yang setara atau memadai.

Kandidat dari PDIP

DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) merahasiakan enam nama bakal calon gubernur DKI yang lolos dalam fit and proper test. Meski demikian, Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto memberi bocoran tokoh-tokoh yang lolos penjaringan. Menurut Hasto, “Ya di dalamnya ada yang ahli tata kota, yang punya pengalaman di jajaran birokrasi cukup lama, dan ada yang dari kalangan akademisi. Nah itu bocorannya>”

Jika melihat dari 27 tokoh yang mendaftar di DPD PDI-P, ahli tata kota yang mengikuti penjaringan adalah Marco Kusumawijaya. Kemudian bakal calon gubernur yang berpengalaman lama dalam jajaran birokrasi adalah Yusril Ihza Mahendra. Sedangkan pendaftar dari kalangan akademisi adalah Teguh Santosa, yang kini masih aktif sebagai pengajar di London School dan Wakil Rektor Universitas Bung Karno.

PDIP akan Meminta Saran Presiden Jokowi

Jakarta, sebagai propinsi, juga sekaligus merupakan pusat dinamika perpolitikan Indonesia, oleh sebab itu harus ramah terhadap tiap warga negara, serta menyiapkan pemimpin yang mampu mengatasi permasalahan kemacetan dan kemiskinan, dan merupakan contoh Pemda lainnya. Lebih dari itu, hubungan antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan pemerintah pusat harus berjalan baik. Oleh sebab itu, menurut Sekjend PDIP, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) akan mendengar masukan Presiden Joko Widodo perihal bakal calon gubernur yang akan diusung pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

 

 

Tanggapan Ahok

Sikpa PDIP tersebut, tidak membuat Basuki Tjahaja Purnama tergoda untuk “menanyakan langsung ke PDIP”, tapi justru santai menunggu keputusan PDI-P. Ahok yang berencana maju melalui jalur perseorangan itu menegaskan sikap PDI-P pada Pilkada DKI Jakarta 2017 merupakan hak prerogatif Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Menurut Ahok, “PDI-P kan jelas mengatakan kalau (Basuki maju) lewat jalur independen, enggak mau dukung. Ini juga ‘kata orang’, bukan ‘kata Bu Mega loh’,”

Berulang kali Ahok mengaku memiliki kedekatan dengan Megawati serta sang suami, almarhum Taufiq Kiemas. Banyak yang menyebut kedekatan mereka sudah seperti orangtua dan anak atau kakak adik. Karena faktor kedekatan ini pula, banyak pihak berspekulasi, Ahok akan didukung pada Pilkada DKI Jakarta 2017 oleh PDI-Pdan kembali menggandeng Djarot Saiful Hidayat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Namun, kader PDI-P menegaskan seluruh pihak eksternal yang akan diusung pada Pilkada DKI Jakarta 2017 harus mendaftar ke DPP PDI-P.

 

OPA JAPPY – JAKARTANEWS.CO

 

303,484 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa