Waspada Relawan Palsu

Salah seorang pengamat politik, Kristiadi, 19 April 2016, yang lalu menyatakan bahwa Lawan Ahok sesungguhnya bukanlah para politisi ataupun jenderal yang telah dan akan mendaftar sebagai calon gubernur DKI. Menurutnya, lawan terberat Ahok adalah dirinya sendiri. Lawan terberat Ahok adalah Pertama, Ahok sendiri. Ahok bisa kalah lawan dirinya sendiri yang ketika dia tidak bisa mempertahankan otensitas dirinya sebagai orang biasa. Dia harus bisa mengalahkan keegoan dan berpegang teguh kepada sikapnya, harus jadi diri sendiri.

Kedua, Pendukung fanatiknya. Para pendukung yang pokoknya mengkultuskan Ahok seakan akan dia orang yang mempunyai kodrat lebih dari manusia biasa, misalnya komunitas komunitas tertentu. Kalau dari komunitas jogja, misalnya dia titisan Batara Wisnu. Saya khawatir mereka yang justru memberatkan Ahok di kemudian hari.

Benar; dua hal di atas, bisa membuat Ahok jatuh dan kalah bertarung di arena Pilkada DKI Jakarta. Namun, jika Ahok dan Tim Ses serta Relawan-relawannya melakukan perubahan, terobosan dan upaya perbaikan, tentu saja, hal yang ditakutkan Kristiadi tersebut, tak khan terjadi.

Oleh sebab itu, Relawan Ahok selayak fokus pada membangun citra positip,  yang di dalamnya menyankut tiga hal yang sangat berhubungan erat satu sama lain, yaitu

  • ketenaran (popularitas)
  • kesukaan (likeness)
  • dukungan (electability).

Ketenaran, sosok Ahok, yang kemudian mengkatrol Heru sang bakal Wakilnya, sudah cukup mendunia; tak sedikit WNI di Luar Negeri melakukan deklarasi dukung Ahok-heru.

Kesukaan. Menyukai sepak terjang Ahok, sesuatu yang relatif; ada yang menyukainya karena marah kepada ketidak beresan; sebalinya ada yang tak menyukainya karena seringt menggunakan kata-kata yang dinilai menyakitkan.

Dukungan. Tidak perlu dijelaskan; Ahok mendapat dukungan dari berbagai elemen secara lokal DKI Jakarta maupun Nasional.

Tiga hal yang ada pada Ahok (dan juga Heru), ternyata melewati semua Bakal Calon Gubernur/Wagub DKI Jakarta; dan itu membuat para kompotitor lainnya, mungkin, gentar dan berupaya mengejarnya. Upaya tersebut, kadang juga dilakukan dengan cara-cara yang tidak bermartabat, misalnya dengan membangun opini negatif tentang Ahok, dan melemparkan ke publik. Dengan harapan, publik mengalihkan dukungan mereka dari Ahok, dan berpindah ke kandidat lainnya. Ini, walau tak berhasil, namun mereka tetap melakukannya.

Di samping upaya pembusukan tersebut, ternyata, berdasar laporan  telah ada “relawan palsu;”  dan itu sangat merugikan publik.  [Note: Saat ini, relawan Ahok-Heru ada dua kelompok besar. 1. Teman Ahok, yang fokus pada pengumpulan KTP; mereka dimotori oleh Yustian, Pabowo, Amelia Cs. dan, 2. Cinta Ahok. Cinta Ahok merupakan gabungan berbagai kominitas pendukung Ahok; di bawah Koordinasi Todora Radisic; ada lebih dari 15 Komuniktas Relawan bergabung di Cinta Ahok].

Dengan demikian, semua Relawan Ahok-Heru, dapat terdata, ada kesamaan gerak serta gerakan, sehingga tidak tumpang tindih satu sama lain.

Menyatukan komunitas relawan pada pada wadah “Cinta Ahok”  tersebut, karena telah ada atau muncul orang-orang atas nama relawan Ahok untuk melakukan penipuan ataupun cara-cara tak bermatabat lainnya. Hal tersbut berdasar data dan info; misalnya.

Kasus di Kepulaun Seribu. Katakanlah ia adalah Bapak XX, ia mengaku sebagai relawan Ahok, dan melakukan penipuan hingga Rp.20 Jt.- Info dari pemuda masyarakat Kepulauan Seribu. Kasus ini, sudah dilaporkan ke aparat kepolisian.

Kasus Ny RR di Jakarta, bukan initia nama sebenarnya. Ia mencoba membuat proposal atas nama relawan, dan rencananya diedaka ke para pengusaha. Rencananya gagal. karena tak disetujui oleh teman-teman seorganisasinya. Data lengkap Ny RR ada pada saya.

Kasus Kanor, bukan initial dan juga nama sebenarnya. Kanor, sering muncul di TV Swasta dengan mengusung nama Teman atau Relawan Ahok. Bermodalkan nama organisasi “yang tak ada atau tak terbentuk” serta foto diri bersama Jokowi dan Ahok. Info yang didapat dari Lingkaran Ahok di Balai Kota, mereka tak pernah menunjuk Kanor sebagai juru bicara Ahok.

Di samping ketiga model contoh di atas, mungkin  saja masih ada yang lain. Oleh sebab itu, ada himbauan dari Teman Ahok agar selalu menghubungi mereka, sekiranya ada orang-orang atau lembaga yang mengatasnamakan Teman Ahok. Sama hal dengan Cinta Ahok, membuka jalur WA +628176506498 untuk menerima laporan tentang adanya relawan palsu; dan juga WA +6281812642 untuk masukan-masuk lainnya dalam rangka kontra isue.

Saya mendukung langkah-langkah Teman Ahok dan Cinta Ahok tersebut; dengan itu semakin menutup kemungkinan adanya penipuan atau pun kejatan atas nama “Demi Ahok;”  “Untuk Ahok;”  “Dukung AHok;” dan seterusnya.

OPA JAPPY | JAKARTA NEWS

[powr-comments id=6f5c6ba5_1464104055676]

867 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share Button

Opa Jappy

Rakyat Biasa